El Niño Diproyeksi Sangat Kuat, Bagaimana Nasib Emiten Sawit?
Prospek harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dinilai semakin positif seiring potensi menguatnya fenomena El Niño.
IDXChannel - Prospek harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dinilai semakin positif seiring potensi menguatnya fenomena El Niño hingga menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade.
Kondisi tersebut diperkirakan menopang kinerja emiten perkebunan pada paruh kedua 2026 hingga 2027.
Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dan Aurelia Barus dalam riset yang diterbitkan pada 13 Juli 2026 mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan.
Prospek tersebut didukung oleh potensi kenaikan harga CPO akibat penguatan El Niño serta implementasi penuh program biodiesel B50.
Menurut mereka, El Niño diperkirakan mulai mengurangi produksi sawit secara bertahap akibat cuaca yang lebih kering. Dampak terhadap pembentukan tandan buah segar (TBS) dan produktivitas umumnya baru terlihat 12-18 bulan setelah fenomena tersebut dimulai.
Mengacu pada data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), El Niño diperkirakan terus menguat hingga akhir 2026.
NOAA memberikan probabilitas 81 persen bahwa El Niño akan mencapai kategori sangat kuat pada Oktober-Desember 2026, berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950, dengan peluang 97 persen bertahan hingga awal musim semi 2027.
Secara historis, periode El Niño diikuti kenaikan harga CPO sekitar 5-19 persen secara tahunan pada tahun berikutnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, Indo Premier memperkirakan harga CPO sepanjang 2027 naik 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara harga pada 2028 diproyeksikan cenderung stabil.
"Apabila El Niño berlangsung lebih lama atau lebih kuat dari asumsi dasar kami, terdapat potensi kenaikan lebih lanjut terhadap proyeksi harga CPO pada 2027 maupun 2028," tulis analis.
Di sisi lain, persediaan minyak sawit Malaysia meningkat pada Juni 2026 karena pertumbuhan produksi lebih tinggi dibandingkan ekspor.
Produksi minyak sawit Malaysia mencapai 2,4 juta ton pada Juni, naik 7 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sementara ekspor meningkat 2 persen menjadi 1,7 juta ton.
Akibatnya, stok minyak sawit Malaysia naik menjadi 3,2 juta ton pada akhir Juni dari 3,1 juta ton pada Mei, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Namun, Indo Premier memperkirakan persediaan tersebut kembali menurun pada bulan-bulan mendatang seiring pelemahan produksi akibat cuaca kering.
Sementara itu, harga CPO Indonesia dan Malaysia masing-masing naik sekitar 1 persen secara bulanan pada Juni menjadi Rp15,6 juta per ton dan MYR4.500 per ton. Selisih harga CPO Indonesia terhadap acuan Malaysia juga menyempit menjadi 23 persen dari 24 persen pada Mei, didorong kepastian implementasi kebijakan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada 5 Juni 2026.
Sepanjang semester I-2026, harga rata-rata CPO Indonesia mencapai Rp15,1 juta per ton atau naik 6 persen dibandingkan rata-rata 2025.
Meski masih berada di bawah estimasi Indo Premier, harga CPO diperkirakan menguat pada semester II-2026 berkat implementasi penuh program B50 dan penguatan El Niño.
Program B50 sendiri resmi berlaku mulai 1 Juli 2026. Namun, pemerintah masih memberikan masa transisi selama tiga bulan untuk menghabiskan stok biodiesel B40 sebelum implementasi penuh dijalankan.
Indo Premier menilai kombinasi implementasi B50 dan potensi gangguan pasokan akibat El Niño menjadi katalis utama yang dapat menopang harga CPO serta kinerja sektor perkebunan dalam beberapa kuartal ke depan.
Risiko utama yang perlu dicermati adalah perubahan regulasi dan kondisi cuaca ekstrem. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.