Empat Saham Migas ENRG-MEDC Cs Bertenaga saat IHSG Turun 2 Persen
Sejumlah saham sektor minyak dan gas (migas) mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (4/3/2026), dipimpin oleh emiten grup Bakrie.
IDXChannel – Sejumlah saham sektor minyak dan gas (migas) mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (4/3/2026), dipimpin oleh emiten grup Bakrie.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melesat 11,27 persen atau naik 240 poin ke Rp2.370 per unit per 09.47 WIB. Nilai transaksi mencapai Rp678,56 miliar.
Di posisi berikutnya, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) naik 4,03 persen ke Rp258 per unit, dengan nilai transaksi Rp38,83 miliar.
Selanjutnya, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 2,89 persen ke Rp1.955. Saham ini diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp419,65 miliar.
Sementara itu, PT Elnusa Tbk (ELSA) naik 1,06 persen ke Rp950, dengan nilai perdagangan Rp119,12 miliar.
Kenaikan saham-saham ini kontras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 2,57 persen ke 7.735,40, membukukan tren penurunan tiga hari berturut-turut di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah.
Harga minyak dunia ditutup melonjak pada Selasa (3/3/2026), mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan ini terjadi seiring memanasnya pertempuran Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang mengganggu pengiriman energi dari Timur Tengah serta memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan.
Kontrak berjangka (futures) Brent naik melesat 4,7 persen ke USD81,40 per barel, menjadi penutupan tertinggi sejak Januari 2025.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD3,33 atau 4,7 persen ke USD74,56 per barel, level tertinggi sejak Juni.
Sejak konflik pecah pada Sabtu, Brent telah melonjak 12 persen.
Melansir dari Reuters, pasukan Israel dan AS menggempur sejumlah target di Iran pada Selasa, memicu serangan balasan Iran di kawasan Teluk dan meluas hingga Lebanon.
Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) setelah Arab Saudi, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari.
Pemangkasan ini bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa hari ke depan karena negara tersebut kehabisan kapasitas penyimpanan untuk minyak yang tak dapat diekspor akibat krisis.
Iran merespons dengan menyerang infrastruktur energi regional dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Kapal tanker dan kapal kontainer kini menghindari selat tersebut setelah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan kapal dan tarif pengiriman minyak serta gas global melonjak tajam.
Kekhawatiran meningkat setelah media Iran pada Senin melaporkan bahwa Iran akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas.
“Pembalasan Iran lebih luas dibandingkan langkah-langkah sebelumnya yang sebagian besar bersifat simbolis, dan pendekatan ini memunculkan sejumlah titik panas regional yang berisiko nyata terhadap pasokan,” tulis analis Standard Chartered dalam catatan riset.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan udara AS dan Israel diperkirakan berlangsung empat hingga lima pekan, namun bisa berjalan lebih lama.
Trump juga menyebut AS tengah mempertimbangkan dukungan asuransi bagi kapal tanker minyak.
Brent sempat menyentuh USD85,12 per barel pada sesi tersebut, tertinggi sejak Juli 2024, sebelum memangkas kenaikan setelah Trump menyatakan banyak target angkatan laut dan udara Iran telah dilumpuhkan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.