MARKET NEWS

ESGIN Gandeng Aspebindo Perkuat Pengembangan Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia

Yanto Kusdiantono 27/08/2026 12:52 WIB

Aspebindo dan ESGIN menjalin kolaborasi untuk memperkuat pengembangan ekosistem perdagangan karbon di Indonesia. 

ESGIN Gandeng Aspebindo Perkuat Pengembangan Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia. (Foto: Yanto Kusdiantono/iNews Media Group)

IDXChannel — Para pelaku usaha sektor pertambangan yang tergabung dalam Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo) bersama PT ESGIN Global Partners (ESGIN) menjalin kolaborasi untuk memperkuat pengembangan ekosistem perdagangan karbon di Indonesia. 

Kolaborasi Aspebindo dan ESGIN diarahkan untuk mendorong pengembangan ekosistem perdagangan karbon yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume transaksi, tetapi juga memperkuat fondasi dari sisi ketersediaan proyek berkualitas, integritas lingkungan, sistem MRV, pembiayaan, serta akses pasar.

Melalui jaringan industri Aspebindo, kedua pihak akan menjajaki identifikasi berbagai kegiatan pengurangan maupun penyerapan emisi yang berpotensi dikembangkan menjadi proyek karbon sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Vice President Regional Head Indonesia PT ESGIN Global Partners Yayang Ruzaldy mengatakan, salah satu tantangan strategis pengembangan pasar karbon Indonesia adalah membangun lebih banyak proyek berkualitas yang memiliki kesiapan teknis, regulasi, pembiayaan, dan pasar.

“Indonesia memiliki potensi proyek karbon yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek yang memiliki metodologi yang tepat, MRV yang kuat, integritas yang tinggi, struktur pembiayaan yang jelas, serta akses terhadap pasar,” ujar dia di sela-sela penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara ESGIN dan ASPEBINDO dalam rangkaian Aspebindo Bioenergy Business Summit 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).  

Menurutnya, pasar karbon perlu dibangun sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan pemerintah, project owner, daerah, project developer, teknologi, lembaga validasi dan verifikasi, investor, perbankan, serta carbon buyer.

“Di balik setiap unit karbon harus terdapat proyek dan aktivitas mitigasi yang nyata, data yang dapat diverifikasi, serta dampak lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada saat yang sama, proyek tersebut harus mampu menciptakan nilai ekonomi yang dapat dirasakan oleh pemilik proyek, daerah, dan masyarakat,” kata Yayang.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya pipeline proyek karbon yang bankable dan investable, sehingga modal dapat masuk untuk membiayai lebih banyak aktivitas mitigasi dan pengurangan emisi di Indonesia.

Sekadar informasi, forum Aspebindo Bioenergy Business Summit mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, investor, lembaga verifikasi, pengembang proyek, asosiasi, pelaku usaha, dan perwakilan daerah untuk membahas bagaimana pasar karbon Indonesia dapat berkembang menjadi ekosistem bisnis yang kredibel, bankable, sekaligus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi daerah dan masyarakat.

Kolaborasi ini juga diarahkan untuk membantu proyek-proyek potensial berkembang menjadi aset karbon yang kredibel, terukur, dan memiliki nilai ekonomi, sekaligus membuka peluang terhadap investasi, pembiayaan, serta akses ke pasar karbon domestik maupun internasional.

Dengan pendekatan tersebut, Aspebindo dan ESGIN berupaya membangun ekosistem yang dapat menghubungkan potensi pengurangan atau penyerapan emisi dengan proyek yang berkualitas, pembiayaan yang memadai, dan permintaan pasar, sehingga potensi karbon dapat ditransformasikan menjadi nilai ekonomi yang nyata.

Di sisi lain, Aspebindo juga mendorong agar industri menangkap peluang ekonomi karbon. Saat ini, asosiasi yang memiliki lebih dari 100 perusahaan anggota itu terus memperluas perannya dalam membantu pelaku usaha memahami dan menangkap peluang dari perkembangan nilai ekonomi karbon dan perdagangan karbon Indonesia.

Adapun perusahaan yang tergabung dalam asosias ini terdiri atas sector perdagangan, pertambangan batu bara, minyak dan gas, serta energi terbarukan. Basis industri tersebut memiliki berbagai peluang dekarbonisasi, antara lain melalui efisiensi energi, energi terbarukan, pengelolaan methane, bioenergi, biomassa, pengelolaan limbah, rehabilitasi lingkungan, serta kegiatan pengurangan emisi lainnya. (Yanto Kusdiantono)

SHARE