MARKET NEWS

Fund Domestik Parkir di Saham Bank, IHSG Kini Menanti Arus Dana Asing

TIM RISET IDX CHANNEL 05/10/2026 10:25 WIB

Dana (fund) domestik masih menjadi penopang utama pasar saham Indonesia, tetapi ruang untuk mendorong reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menyempit.

Fund Domestik Parkir di Saham Bank, IHSG Kini Menanti Arus Dana Asing. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Dana (fund) domestik masih menjadi penopang utama pasar saham Indonesia, tetapi ruang untuk mendorong reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menyempit setelah investor lokal meningkatkan eksposur ke sejumlah sektor utama, terutama perbankan.

Di saat yang sama, posisi kas dana lokal telah turun di bawah rata-rata historis, sementara investor asing belum menunjukkan tanda-tanda kembali secara agresif ke pasar Indonesia.

BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Senin (5/10/2026), mencatat dana domestik terus melakukan rotasi portofolio.

Investor lokal mulai mengurangi posisi di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), lalu mengalihkannya ke PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Rotasi juga mengarah ke saham batu bara, minyak dan gas, serta PT Indosat Tbk (ISAT), sementara eksposur terhadap sektor logam dan consumer mulai dikurangi.

Pada sektor perbankan, posisi overweight dana domestik mencapai 3,3 percentage points atau sekitar 1 percentage point di bawah rata-rata 25 bulan terakhir. Posisi tersebut juga masih sekitar separuh dari level puncak overweight bank pada Agustus 2025 yang mencapai 6,3 percentage points.

Sementara itu, overweight pada sektor batu bara meningkat menjadi 2,4 percentage points dan minyak dan gas mencapai 1,7 percentage points, level tertinggi dalam 24 bulan.

Sebaliknya, sektor logam mulai dikurangi, dengan posisi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 40 basis points dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 10 basis points.

Menurut BRI Danareksa, pergeseran tersebut menunjukkan dana domestik masih aktif menopang pasar melalui rotasi antarsektor.

Namun, besarnya eksposur terhadap saham-saham tertentu juga meningkatkan risiko apabila tekanan jual asing berlanjut, terutama di sektor berbasis sumber daya alam (SDA).

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena kepemilikan asing di JCI telah turun menjadi 36,4 persen, terendah sejak data tersebut mulai tersedia pada 2015.

Artinya, apabila investor asing kembali melakukan penjualan pada saham SDA, dana domestik kini menghadapi eksposur yang lebih besar terhadap tekanan tersebut.

Temuan BRI Danareksa Sekuritas sejalan dengan catatan CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI).

Dalam riset 25 September 2026, analis CGSI Hadi Soegiarto, Wisnu Trihatmojo, dan Elizabeth Noviana menilai arus dana asing menjadi semakin penting bagi keberlanjutan reli IHSG karena posisi kas investor lokal telah turun cukup jauh.

Dana lokal menggunakan kasnya lebih agresif sepanjang Agustus. Rasio kas turun menjadi 6,2 persen, di bawah rata-rata empat tahun sebesar 7,3 persen dan level Juli 2026 sebesar 9,4 persen.

CGSI menilai level kas 6,2 persen tersebut serupa dengan kondisi pada kuartal IV-2025, ketika pasar mengalami euforia menjelang peringatan MSCI pada Januari 2026.

“Dengan posisi kas yang semakin menipis, kenaikan IHSG berikutnya kemungkinan akan lebih bergantung pada masuknya dana asing,” tulis CGSI.

Masalahnya, minat investor asing terhadap saham Indonesia masih rendah.

Bobot Indonesia dalam MSCI APAC ex Japan telah turun dari 1,2 persen pada Desember 2025 menjadi hanya 0,5 persen pada Agustus 2026.

Bobot tersebut setara dengan sekitar 51 persen bobot Thailand, 50 persen Malaysia, dan hanya 14 persen Singapura.

CGSI menyebut kondisi tersebut membuat investor asing membutuhkan tingkat keyakinan yang lebih tinggi untuk kembali masuk ke pasar Indonesia.

Selain itu, investor asing yang ditemui CGSI kini cenderung hanya ingin memiliki kurang dari lima saham Indonesia, lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, CGSI melihat peluang kembalinya investor asing tetap terbuka apabila moderasi kebijakan dalam beberapa bulan terakhir berlanjut.

Kebijakan fiskal dan moneter dinilai mulai membaik, meski masih diperlukan langkah tambahan apabila faktor eksternal tetap kurang mendukung.

Investor juga akan mencermati efisiensi program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (KopDes), serta pengendalian kenaikan anggaran subsidi energi.

Eksekusi kebijakan gubernur Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang baru juga akan menjadi perhatian, termasuk dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.

Dari sisi valuasi, CGSI menilai investor asing tetap mengakui bahwa pasar Indonesia relatif murah.

Namun, katalis kebijakan dan arus dana asing akan menjadi faktor penting untuk mengubah persepsi tersebut menjadi aksi beli.

Sejumlah agenda kebijakan juga akan menjadi perhatian pasar hingga akhir tahun.

Pada akhir Oktober 2026, MSCI dijadwalkan memperbarui status pembekuan (freeze) Indonesia.

CGSI memperkirakan status tersebut kemungkinan diperpanjang, yang dinilai sebagai peristiwa netral bagi pasar dengan risiko negatif yang relatif kecil.

Selanjutnya, pada Desember 2026, pasar akan mencermati penetapan kenaikan upah minimum regional (UMR) untuk 2027. Sejumlah serikat pekerja disebut meminta kenaikan 7,5 persen-9,5 persen, dibandingkan kenaikan 6,5 persen pada 2025 dan 5,8 persen pada 2026.

Pasar juga menunggu potensi pengesahan RUU Perampasan Aset pada pertengahan Desember 2026 serta perkembangan tahap kedua implementasi Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada akhir Desember.

DSI dibentuk sebagai titik pemantauan satu pintu untuk ekspor komoditas strategis, saat ini mencakup batu bara, minyak sawit, dan ferroalloy. (Aldo Fernando)

SHARE