MARKET NEWS

Fundamental Ekonomi RI Solid, Chatib Basri Ungkap Akar Pelemahan Rupiah Saat Ini

Rohman Wibowo 09/06/2026 14:42 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada pada tren pelemahan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Fundamental Ekonomi RI Solid, Chatib Basri Ungkap Akar Pelemahan Rupiah Saat Ini. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada pada tren pelemahan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Meski fundamental ekonomi nasional sering diklaim tetap kokoh, tekanan pada mata uang Garuda menimbulkan pertanyaan besar mengenai penyebab utama di balik pelemahan yang terjadi belakangan ini.

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri, menilai anjloknya nilai tukar rupiah tidak bisa hanya dilihat dari faktor fundamental ekspor-impor atau pertumbuhan ekonomi semata. Dia mengatakan faktor persepsi pasar terhadap risiko keuangan negara atau kredibilitas fiskal memegang peranan yang jauh lebih dominan.

"Yang bisa menjelaskan pelemahan rupiah faktor yang paling besar itu adalah risiko dari fiskal, di mana sekitar 23 persen pelemahannya sebetulnya bisa dijelaskan oleh pergerakan Credit Default Swap (CDS)," ujar Chatib dalam Grab Business Forum di Shangri-La Hotel, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Berdasarkan data tersebut, pelemahan rupiah rupanya sangat sensitif terhadap indikator CDS atau instrumen asuransi terhadap risiko gagal bayar utang, yang mencerminkan tingkat kepercayaan investor. Menariknya, memburuknya angka CDS Indonesia sudah mulai terlihat sejak Januari 2026, jauh sebelum ketegangan perang meningkat. 

Hal ini dipicu oleh keputusan Moody’s yang merevisi outlook ekonomi Indonesia menyusul kekhawatiran pasar terhadap defisit APBN yang mendekati angka tiga persen.

Chatib menekankan bahwa Indonesia tidak sedang berada di ambang resesi karena pertumbuhan ekonomi masih diproyeksikan stabil pada kisaran 4,5 hingga 5 persen. 

Namun, Chatib menitikberatkan kegelisahan pasar lebih didorong oleh isu keberlanjutan fiskal yang membuat investor cenderung menahan diri atau mengalihkan modalnya ke pasar yang lebih aman.

"Persoalannya bukan pada resesi karena pertumbuhan kita masih sangat baik menurut standar global, tapi lebih pada kredibilitas fiskal yang menimbulkan anxiety bagi para investor di pasar modal," kata dia.

Menghadapi situasi ini, Chatib menggarisbawahi Bank Indonesia berada dalam posisi sulit namun telah mengambil beberapa langkah strategis. Otoritas moneter memiliki pilihan untuk melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing atau meningkatkan daya tarik aset domestik agar modal tidak terus keluar.

Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga memperketat aturan makro dan mikroprudensial dengan menurunkan batas FX exposure dari USD50 ribu menjadi USD25 ribu guna meredam spekulasi.

Seturut itu, Chatib menyoroti BI yang terus berupaya menjaga keseimbangan antara menjaga cadangan devisa dan memastikan rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam. Langkah intervensi pasar yang masif dipandang cukup berisiko karena dapat menguras cadangan devisa secara signifikan dalam waktu singkat jika tidak dibarengi dengan perbaikan kepercayaan pasar.

"Opsi dari Bank Indonesia adalah menaikkan interest rate untuk membuat aset kita menarik atau melakukan intervensi pasar, namun intervensi yang terlalu banyak akan membuat cadangan devisa turun terus," kata Chatib.

Terkait dampak ke masyarakat, Chatib memperkirakan pelemahan kurs ini belum akan memicu lonjakan inflasi yang ekstrem. Berdasarkan kalkulasi BI, setiap satu rupiah depresiasi memberikan tambahan inflasi sebesar 0,13. 

Dengan asumsi depresiasi rupiah berada di level delapan persen, maka dampaknya terhadap kenaikan harga-harga di tingkat konsumen diperkirakan masih berada di bawah angka satu persen.

(NIA DEVIYANA)

SHARE