MARKET NEWS

Harga Batu Bara Berpotensi Balik Arah Jika Konflik Iran Mereda

TIM RISET IDX CHANNEL 18/03/2026 08:17 WIB

Harga batu bara melonjak seiring konflik Iran seiring pengguna gas alam beralih ke batu bara akibat terganggunya pasokan.

Harga Batu Bara Berpotensi Balik Arah Jika Konflik Iran Mereda. (Foto: iStock)

IDXChannel - Harga batu bara melonjak seiring konflik Iran seiring pengguna gas alam beralih ke batu bara akibat terganggunya pasokan.

Namun, apakah harga batu bara akan tetap kuat setelah konflik mereda?

Morgans Financial Limited mencatat, harga acuan batu bara termal yang diekspor dari pelabuhan Newcastle, Australia, berada di level USD118 per ton sebelum serangan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Sejak itu, harganya naik menjadi USD138 per ton.

“Selama perang sebelumnya yang berlangsung 12 hari pada Juni 2025, harga minyak mentah pulih ke level sebelum konflik segera setelah permusuhan berakhir,” ujar analis Morgans, Chris Creech, seperti dikutip The Wall Street Journal, Rabu (18/3/2026).

Ia memperkirakan, pola serupa juga terjadi pada batu bara jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam jangka pendek dan Qatar memulihkan produksi LNG.

Morgans mengasumsikan harga batu bara di level USD115 per ton sepanjang paruh kedua tahun fiskal 2026. Untuk jangka panjang, harga diproyeksikan berada di kisaran USD120 per ton mulai tahun fiskal 2027.

Sebelumnya, dari dalam negeri, pemerintahan Prabowo Subianto memberi sinyal akan menerapkan aturan guna memastikan sektor industri yang terus berkembang dapat mengakses batu bara dengan harga lebih murah sebelum sebagian volume diekspor.

Indonesia merupakan eksportir batu bara terbesar di dunia untuk pembangkit listrik, dengan kontribusi sekitar 50 persen dari pasokan global.

Mengutip Trading Economics, Selasa (17/3/2026), gangguan berkepanjangan terhadap aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz berpotensi mendorong pembangkit listrik di negara-negara besar untuk semakin mengandalkan batu bara sebagai sumber energi.

Batu bara masih menjadi bahan bakar fosil dengan intensitas karbon tertinggi.

Namun, meskipun berbagai upaya dari aktivis lingkungan, lembaga keuangan, dan pemerintah untuk menekan penggunaannya, permintaan tetap terjaga.

Menurut International Energy Agency (IEA), permintaan batu bara termal global meningkat dalam dua tahun terakhir, terutama didorong oleh India dan kawasan Asia Tenggara. (Aldo Fernando)

SHARE