MARKET NEWS

Harga CPO Bukukan Kenaikan Mingguan Ketiga Beruntun

TIM RISET IDX CHANNEL 07/06/2026 12:15 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) mencatat kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun, meski ditutup melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Harga CPO Bukukan Kenaikan Mingguan Ketiga Beruntun. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) mencatat kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya secara beruntun, meski ditutup melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) akibat tekanan dari pelemahan minyak nabati pesaing dan kekhawatiran atas kebijakan ekspor baru Indonesia.

Kontrak CPO acuan pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,02 persen menjadi 4.554 ringgit Malaysia per ton pada penutupan perdagangan Jumat.

Kendati demikian, kontrak tersebut masih membukukan kenaikan 0,42 persen sepanjang pekan ini.

Sentimen negatif datang dari pelemahan minyak nabati di Bursa Dalian China serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap aturan baru Indonesia yang akan menempatkan ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk minyak sawit, di bawah kendali pemerintah pusat.

Tekanan juga berasal dari ekspektasi kenaikan persediaan minyak sawit Malaysia. Survei Reuters memperkirakan stok pada Mei meningkat untuk bulan kedua berturut-turut.

Di sisi lain, data perusahaan survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada Mei turun antara 8,8 persen hingga 15,5 persen dibandingkan April, mencerminkan permintaan global yang masih lemah.

Permintaan dari India, importir minyak sawit terbesar dunia, memang mulai pulih dari level terendah empat bulan yang tercatat pada April. Namun, volume pembelian masih berada di bawah tingkat normal.

Meski demikian, harga CPO tetap mampu mencatatkan penguatan mingguan ketiga berturut-turut.

Pelemahan nilai tukar ringgit menjadi salah satu faktor yang menopang harga karena meningkatkan daya saing ekspor minyak sawit Malaysia di pasar global.

Kenaikan harga minyak mentah dunia sepanjang pekan juga memberikan dukungan tambahan.

Mandeknya pembicaraan antara Washington dan Teheran mendorong harga energi, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Mengutip Trading Economics, dukungan jangka panjang juga datang dari kondisi cuaca yang lebih kering di sejumlah wilayah Asia serta proyeksi fenomena El Nino yang kuat.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap produksi tanaman dan pasokan minyak nabati global.

Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan kepada Reuters, pasar juga mendapat penopang dari perkiraan penurunan produksi minyak sawit pada Mei.

Sementara itu, Indonesia pada Jumat resmi menerbitkan regulasi baru yang mengatur ekspor komoditas strategis, termasuk minyak sawit, di bawah kendali pemerintah pusat.

Masa transisi kebijakan tersebut dimulai pada 1 Juni, sementara implementasi penuh dijadwalkan berlaku pada awal tahun depan. (Aldo Fernando)

SHARE