Harga CPO Naik 2 Hari, Ditopang Minyak Nabati dan Kekhawatiran El Nino
Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat dua hari berturut-turut pada Selasa (7/7/2026).
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat dua hari berturut-turut pada Selasa (7/7/2026), didorong kenaikan harga minyak nabati pesaing serta kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi akibat fenomena El Nino.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,42 persen menjadi 4.569 ringgit Malaysia per ton pada 15.43 WIB.
Trader proprietary di perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd yang berbasis di Kuala Lumpur, David Ng, mengatakan, dikutip Reuters, penguatan harga dipicu oleh kenaikan harga minyak kedelai dan olein sawit di Bursa Dalian yang mengangkat sentimen pasar.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap risiko cuaca El Nino dalam beberapa bulan mendatang yang berpotensi mengganggu pola produksi di Malaysia juga turut menopang harga minyak sawit.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 1,24 persen, sementara kontrak minyak sawit menguat 1,27 persen. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai turut naik tipis 0,05 persen.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti tren minyak nabati pesaing karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah menguat, meski kenaikannya terbatas karena pelaku pasar mulai mengalihkan fokus dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah ke prospek peningkatan pasokan dan permintaan.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi bahan baku yang lebih menarik untuk produksi biodiesel.
Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,22 persen terhadap dolar AS, sehingga minyak sawit menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Dari Indonesia, perusahaan perkebunan pelat merah PT Agrinas Palma Nusantara berencana membangun pabrik biodiesel dan bioetanol untuk mendukung agenda energi terbarukan pemerintah.
Selain itu, perusahaan juga akan menambah komoditas kedelai dan singkong ke dalam portofolio usahanya, menurut keterangan direktur utamanya pada Senin. (Aldo Fernando)