MARKET NEWS

Harga CPO Turun 3 Hari, Pasar Tunggu Katalis Baru

TIM RISET IDX CHANNEL 12/02/2026 15:32 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) memperpanjang tren pelemahan menjadi tiga hari berturut-turut pada Kamis (12/2/2026).

Harga CPO Turun 3 Hari, Pasar Tunggu Katalis Baru. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) memperpanjang tren pelemahan menjadi tiga hari berturut-turut pada Kamis (12/2/2026), seiring penguatan tipis ringgit yang menambah tekanan dari penurunan kontrak palm olein di Dalian serta absennya sentimen positif dari konferensi industri utama.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives turun 0,64 persen menjadi 4.034 ringgit Malaysia per ton pada pukul 14.30 WIB.

“Penguatan ringgit terus membebani daya saing ekspor dan meredam minat beli. Pada saat yang sama, harga palm olein di Dalian melemah, menambah tekanan dari kompleks minyak nabati secara luas,” ujar analis komoditas pertanian StoneX yang berbasis di Singapura, Kang Wei Cheang, dikutip dari Reuters.

Menurut dia, pelaku pasar juga masih mencermati beragam pandangan dalam Price Outlook Conference di Kuala Lumpur, tanpa muncul katalis bullish baru dalam waktu dekat.

Ringgit Malaysia, mata uang acuan perdagangan sawit, menguat 0,13 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat komoditas ini menjadi lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,15 persen, sementara kontrak minyak sawitnya turun 0,9 persen. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai menguat 0,42 persen.

Minyak sawit kerap mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya, karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Sementara itu, Malaysia menaikkan harga referensi minyak sawit mentah untuk Maret dan mempertahankan bea ekspor sebesar 9 persen, menurut surat edaran di situs Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Di sisi lain, langkah Indonesia yang menunda ekspansi biodiesel serta ekspektasi peningkatan produksi dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan menekan harga minyak sawit.

Meski demikian, permintaan yang kuat dan perlambatan pertumbuhan produksi secara keseluruhan dinilai dapat membatasi pelemahan lebih lanjut, kata para analis.

Managing Director sekaligus pendiri firma penasihat Glenauk Economics, Julian McGill, mengatakan penjualan benih sawit Indonesia pada 2025 mengindikasikan aktivitas penanaman tetap signifikan meski terjadi gangguan akibat penyitaan lahan oleh satuan tugas kehutanan pemerintah. (Aldo Fernando)

SHARE