Harga Emas Berbalik Jatuh usai The Fed Kerek Suku Bunga
Harga emas dunia berbalik melemah persen pada perdagangan Rabu (16/9/2026) setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.
IDXChannel - Harga emas dunia berbalik melemah persen pada perdagangan Rabu (16/9/2026) setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan biaya pinjaman lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Kebijakan tersebut mendorong dolar AS menguat dan menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Harga emas spot turun 0,70 persen menjadi USD4.263,86 per troy ons, setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 1 persen ke level tertinggi sesi di USD4.365,57 per troy ons.
The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75-4,00 persen.
Keputusan tersebut disepakati secara bulat, termasuk oleh Ketua The Fed Kevin Warsh, dan secara efektif mengakui bahwa pemerintahan Donald Trump sejauh ini belum berhasil mengendalikan inflasi.
Dalam pernyataannya setelah keputusan tersebut, Warsh menggemakan pernyataan resmi bank sentral dengan menegaskan bahwa komite kebijakan The Fed akan "mewujudkan stabilitas harga".
"Komentar Warsh dibaca sebagai hawkish, ditambah dengan dot plot yang juga hawkish. Hal ini memperkuat pandangan bahwa akan ada kenaikan suku bunga tambahan dalam pertemuan-pertemuan mendatang. Kondisi tersebut membantu dolar dan akan menekan logam dalam jangka pendek," kata trader logam independen Tai Wong, dikutip Reuters.
Dolar AS menguat terhadap euro setelah pengumuman The Fed, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Kombinasi tarif impor global yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, guncangan energi setelah dimulainya perang AS-Israel dengan Iran, serta belanja modal yang didorong oleh ledakan industri kecerdasan buatan (AI) membuat harga-harga tetap tinggi.
Kondisi tersebut memaksa bank sentral meningkatkan suku bunga.
"Fokus utama kami adalah pada stabilitas harga sebagai bagian dari mandat kami. Faktanya, inflasi masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama. Data inflasi pada musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti," ujar Warsh.
Emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent terkoreksi setelah laporan mengenai tambahan kargo minyak mentah Arab Saudi yang dikirim melalui Oman meredakan kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah.
Penurunan tersebut juga mendapat tekanan dari penyusutan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih kecil dari perkiraan. (Aldo Fernando)