MARKET NEWS

Harga Emas Dunia Diprediksi Tembus USD6.000 pada Akhir 2026

Tangguh Yudha 26/01/2026 14:44 WIB

Harga emas dunia berpotensi mencapai USD6.000 pada akhir tahun 2026 dan bahkan menembus USD10.000 pada akhir 2029

Harga Emas Dunia Diprediksi Tembus USD6.000 pada Akhir 2026 (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Harga emas dunia berpotensi mencapai USD6.000 pada akhir tahun 2026 dan bahkan menembus USD10.000 pada akhir 2029.

Adapun hingga saat ini, harga emas dunia terus mencetak rekor baru dengan menembus level USD5.000 per ons. Kenaikan tajam ini terjadi hanya beberapa bulan setelah harga emas melewati USD4.000 per ons.

Peneiti Senior Brookings Institution sekaligus Eks Kepala Ekonom Institute of International Finance, Robin Brooks, menilai reli emas kali ini menjadi sinyal serius bagi stabilitas keuangan global.

“Kenaikan harga logam mulia ini sungguh mencengangkan dan sangat mengkhawatirkan,” katanya dikutip dari Business Insider pada Senin (26/1/2026).

Menurut Brooks, lonjakan harga emas tersebut bukan dipicu oleh peningkatan agresif pembelian emas oleh bank sentral. Data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral negara berkembang relatif stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan, termasuk setelah pemberlakuan sanksi global pascainvasi Rusia ke Ukraina.

Sebaliknya, reli emas dipicu oleh meningkatnya tekanan di pasar obligasi negara-negara dengan tingkat utang tinggi. Investor mulai mengalihkan dananya ke aset riil dalam strategi yang dikenal sebagai debasement trade, seiring kekhawatiran bahwa pembiayaan utang pemerintah yang masif akan menggerus nilai mata uang.

“Kita berada di awal krisis utang global, dengan pasar semakin khawatir pemerintah akan mencoba menginflasikan utang yang sudah di luar kendali,” tutur Brooks.

Ia juga menyoroti negara-negara dengan beban utang besar seperti Jepang yang mulai menghadapi tekanan pasar, sementara aliran dana justru mengarah ke negara dengan tingkat utang rendah seperti Swiss, Norwegia, dan Swedia.

Faktor lain yang memperkuat reli emas adalah melemahnya hubungan historis antara harga emas dan suku bunga riil. Selama ini, harga emas cenderung turun ketika suku bunga riil naik karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Namun, hubungan tersebut kini runtuh seiring kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal yang mengalahkan indikator valuasi tradisional.

Pelemahan dolar AS juga turut mendukung kenaikan harga emas. Indeks Dolar AS tercatat turun 1,3 persen sepanjang tahun ini, setelah bergerak relatif stabil pada paruh kedua 2025, sehingga membuat emas lebih menarik bagi investor non-dolar.

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik global turut menjadi pendorong kenaikan harga emas. Analis Pasar Senior Ed Yardeni menyebut meningkatnya belanja pertahanan dan perlombaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), mendorong permintaan logam mulia dan logam dasar.

Yardeni juga menyoroti rencana peningkatan belanja militer Amerika Serikat hingga USD1,5 triliun pada 2027 yang berpotensi menambah hampir USD6 triliun pada utang nasional AS dalam satu dekade ke depan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. "Kami siaga terhadap serangan terhadap AS oleh Bond Vigilantes," kata Yardeni.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE