Harga Emas Masih Sulit Menanjak, Pasar Tunggu Data Inflasi AS Pekan Ini
Harga emas dunia diperkirakan bergerak terbatas pada pekan ini seiring pelaku pasar menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
IDXChannel – Harga emas dunia diperkirakan bergerak terbatas pada pekan ini seiring pelaku pasar menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Sebelumnya, harga emas menutup perdagangan Jumat (10/7/2026) pekan lalu dengan pelemahan. Harga emas spot turun 0,08 persen menjadi USD4.120,67 per troy ons. Secara mingguan, logam mulia tersebut terkoreksi 1,32 persen.
Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek mengatakan, kembali meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menekan harga emas.
"Faktor utama di sini adalah kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran. Investor secara umum tidak ingin mempertahankan kepemilikan emas maupun perak pada saat ini, sehingga kami melihat harga bergerak turun ke kisaran USD4.100," kata Melek, dikutip Reuters.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan pelaku pasar masih terbelah dalam memandang prospek emas jangka pendek setelah logam mulia itu gagal keluar dari fase konsolidasinya.
Head of Currency Strategy InvestingLive Adam Button memilih bersikap netral terhadap prospek emas.
"Saya bersikap netral. Sulit untuk optimistis terhadap emas selama konflik bersenjata di Iran masih berlangsung. Risiko kenaikan harga minyak masih lebih besar sehingga justru menjadi sentimen negatif bagi emas," ujarnya.
Namun, Publisher VR Metals/Resource Letter Mark Leibovit tetap optimistis harga emas masih memiliki ruang kenaikan.
"Saya masih bullish. Harga emas berpotensi mencapai kisaran USD4.700 hingga USD4.800 dalam beberapa pekan ke depan," katanya.
Sementara itu, Senior Commodities Broker StoneX Group Daniel Pavilonis memperkirakan emas masih berpotensi melemah sebelum kembali menarik minat beli investor.
"Secara teknikal, grafik emas saat ini terlihat rusak. Menurut saya, harganya masih bisa turun lebih rendah lagi," ujar Pavilonis.
Dia menambahkan, aliran dana saat ini lebih banyak mengarah ke pasar saham internasional dibandingkan aset logam mulia.
Hasil survei Kitco terhadap 13 analis Wall Street menunjukkan lima analis atau 38 persen memperkirakan harga emas menguat pada pekan ini.
Sebanyak tiga analis atau 23 persen memproyeksikan harga turun, sementara lima analis lainnya atau 38 persen memperkirakan emas bergerak mendatar.
Di kalangan investor ritel, pandangan juga masih terpecah. Dari 282 responden, sebanyak 42 persen memperkirakan harga emas naik, 38 persen memprediksi turun, sedangkan 20 persen menilai harga akan bergerak dalam fase konsolidasi.
Pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS. Pada Selasa, investor akan mencermati data Indeks Harga Konsumen (CPI) Juni, disusul Indeks Harga Produsen (PPI) pada Rabu.
Selain itu, pasar juga akan menunggu data penjualan ritel, survei manufaktur, klaim pengangguran mingguan, hingga data sektor perumahan pada Kamis dan Jumat.
Di saat yang sama, Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan kesaksian pertamanya di hadapan Kongres, yang akan dicermati investor untuk mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter AS. (Aldo Fernando)