Harga Emas Stabil di Tengah Tarik-Menarik Prospek Suku Bunga dan Inflasi
Harga emas dunia turun tipis usai memangkas koreksi secara signifikan pada Kamis (20/8/2026).
IDXChannel - Harga emas dunia turun tipis usai memangkas koreksi secara signifikan pada Kamis (20/8/2026).
Prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah membantu menopang harga emas di tengah kekhawatiran inflasi yang masih membayangi, terutama setelah harga minyak kembali naik.
Harga emas spot turun 0,1 persen menjadi USD4.516,19 per troy ons.
Sebelumnya, harga emas sempat merosot ke USD4.450,08 per troy ons setelah mencapai level tertinggi sejak 2 Juni pada awal perdagangan.
Pada perdagangan Rabu (19/8), harga emas melonjak lebih dari 4 persen.
Penguatan tersebut terjadi setelah dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam menyusul pengumuman Departemen Keuangan AS yang akan meningkatkan pembelian kembali obligasi dengan tenor lebih panjang.
"Emas berada di bawah tekanan aksi ambil untung yang biasa terjadi setelah penguatan tajam pada sesi sebelumnya," ujar analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, dikutip Reuters.
Menurut dia, notulen Federal Reserve (The Fed) yang cenderung hawkish serta kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi turut menekan harga emas.
Namun, emas memangkas sebagian penurunannya setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dalam wawancara dengan CNBC International pada Kamis bahwa pemerintah dapat meningkatkan pembelian kembali obligasi Treasury.
Nilai pembelian kembali tersebut bahkan bisa lebih dari USD4 miliar untuk setiap penerbitan.
"Emas mendapat dukungan dari prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah," kata analis independen Tai Wong.
Emas memang kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan emas karena meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Notulen rapat The Fed pada Juli yang dirilis Rabu menunjukkan kekhawatiran sejumlah pejabat terhadap inflasi.
Beberapa pejabat juga masih membuka peluang untuk kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada September mencapai 67,4 persen.
Di sisi lain, harga minyak melanjutkan penguatan ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan.
Kenaikan tersebut terjadi karena negosiasi terkait konflik Iran terhenti, sehingga kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah kembali meningkat.
Morgan Stanley menilai harga emas masih memiliki ruang untuk menguat lebih jauh.
"Dengan ekonom AS kami memperkirakan The Fed tetap menahan suku bunga, kami melihat peluang harga emas menembus USD5.000 per troy ons pada 2027, bahkan berpotensi lebih cepat," tulis analis Morgan Stanley dalam sebuah riset.
Meski demikian, Morgan Stanley juga mengingatkan bahwa harga emas masih berpotensi bergerak volatil. (Aldo Fernando)