Harga Emas Stabil Setelah Sentuh Level Tertinggi Lebih dari 3 Bulan
Harga emas relatif stabil pada perdagangan Selasa (25/8/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.
IDXChannel - Harga emas relatif stabil pada perdagangan Selasa (25/8/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.
Penguatan emas mulai kehilangan momentum di dekat level psikologis penting, sementara pasar menanti rilis indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) pekan ini.
Harga emas spot naik tipis 0,17 persen menjadi USD4.659,05 per troy ons. Sebelumnya, emas spot sempat mencapai level tertinggi sejak 14 Mei.
"Menurut saya, ini hanya penurunan momentum. Jika ada faktor yang bisa menjelaskan pergerakan ini, kemungkinan karena emas sudah mendekati level resistance kuat di sekitar USD4.700," kata Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, dikutip Reuters.
Harga emas sempat naik hingga USD4.696,18 per troy ons pada awal perdagangan.
Investor masih mencermati keputusan terbaru Departemen Keuangan AS yang menggandakan ukuran operasi pembelian kembali surat utang atau buyback untuk obligasi dengan tenor lebih panjang.
Langkah tersebut sebelumnya turut menekan dolar AS hingga mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu, sehingga memberikan dukungan terhadap harga emas.
Kini, perhatian pasar tertuju pada laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Juli yang akan dirilis Rabu (26/8).
Investor juga menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
The Fed menggunakan data PCE sebagai salah satu acuan utama dalam mencapai target inflasi 2 persen.
Namun, data inflasi produsen dan konsumen AS yang dirilis bulan ini menunjukkan tekanan harga yang lebih moderat, sehingga mengurangi peluang kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September hanya sebesar 38 persen.
Emas cenderung kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Di sisi lain, permintaan emas dari China menunjukkan peningkatan.
Data yang dirilis Selasa menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli naik sekitar 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya, didukung meningkatnya permintaan investasi.
Dari sisi geopolitik, Iran berjanji akan merespons perluasan sanksi AS yang ditujukan untuk mengisolasi perekonomiannya.
Iran juga menyatakan keyakinan bahwa mitra dagang utamanya akan menolak tekanan tersebut, sekaligus menilai Washington masih berupaya menghidupkan kembali perundingan. (Aldo Fernando)