Harga Emas Turun Lebih dari 1 Persen, Bayang-Bayang Kenaikan Suku Bunga Menguat
Harga emas turun lebih dari 1 persen ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada Selasa (9/6/2026), seiring aksi jual yang melanda pasar keuangan.
IDXChannel - Harga emas turun lebih dari 1 persen ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada Selasa (9/6/2026), seiring aksi jual yang melanda pasar keuangan secara luas dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) tahun ini.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi penting yang akan dirilis pekan ini.
Emas spot turun 1,62 persen menjadi USD4.259,96 per troy ons, setelah sempat merosot lebih dari 2 persen sebelumnya. Logam mulia tersebut menyentuh level terendah sejak 23 Maret.
“Trader sedikit gugup dengan kondisi pasar saat ini. Semua pasar bergerak dalam mode risk-off. Saya kira sentimen risk-off itulah yang membuat harga emas turun,” kata Strategis Pasar Senior RJO Futures, Bob Haberkorn, dikutip Reuters.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan pada perdagangan Selasa.
“Emas dan perak masih berada di bawah tekanan sampai kami mendapatkan panduan yang lebih jelas dari The Fed,” tambah Haberkorn.
Setelah data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan hasil yang kuat, fokus pasar kini tertuju pada data inflasi utama pekan ini, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei yang akan dirilis Rabu dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis.
Data tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS.
Dalam catatannya, Commerzbank menyebut harga emas berpotensi turun lebih lanjut apabila data inflasi AS bulan Mei kembali menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan.
“Jika data inflasi AS untuk Mei juga memberikan kejutan ke atas pada Rabu, harga emas kemungkinan turun lebih jauh. Namun hal itu juga meningkatkan potensi pemulihan harga pada akhir tahun apabila, sesuai perkiraan kami, The Fed tidak menaikkan suku bunga,” tulis Commerzbank.
Menurut alat CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 68 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember.
Sementara itu, harga minyak turun setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden AS Donald Trump.
Harga minyak yang tinggi dapat mendorong inflasi dan membuat suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama.
Meski emas sering dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga umumnya membebani logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.
Di sisi lain, kenaikan tajam tarif impor emas di India memicu kembali maraknya penyelundupan.
Volume penyelundupan emas tahun ini diperkirakan melebihi 100 ton, karena margin pasar gelap yang meningkat memungkinkan para penyelundup menjual emas dengan harga lebih murah dibandingkan bank dan perusahaan pemurnian logam mulia.
Untuk logam mulia lainnya, perak spot turun 4,3 persen menjadi USD65,23 per ons, platinum melemah 2,1 persen menjadi USD1.717,30 per ons, dan paladium turun 1,3 persen menjadi USD1.220,92 per ons. (Aldo Fernando)