Harga Minyak Ambruk 11 Persen Dipicu Sinyal Perundingan AS-Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menunda serangan militer terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari.
IDXChannel - Harga minyak dunia anjlok sekitar 11 persen pada Senin (23/3/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menunda serangan militer terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari.
Langkah tersebut diambil setelah adanya pembicaraan konstruktif untuk meredakan konflik di Timur Tengah, hanya beberapa jam sebelum tenggat yang berpotensi memperluas perang yang telah berlangsung empat pekan.
Minyak WTI ditutup ambles 10 persen ke USD88,13 per barel, sementara Brent merosot 11 persen menjadi USD99,94, penutupan terendah sejak 11 Maret.
Pergerakan harga yang ekstrem dalam beberapa pekan terakhir, dengan Brent sempat mencatat level tertinggi sejak Juli 2022 pada Jumat, mendorong volatilitas kontrak berjangka 30 hari kedua acuan minyak ke level tertinggi sejak April 2022.
Kontrak berjangka bensin dan solar AS juga turun sekitar 10 persen pada Senin, setelah sebelumnya ditutup di level tertinggi sejak 2022 pada Jumat.
Mengutip Reuters, Trump mengatakan pembicaraan antara AS dan Iran dalam sehari terakhir menunjukkan adanya “titik kesepakatan besar”, dan kesepakatan untuk mengakhiri perang diperkirakan dapat segera tercapai.
Harga minyak sempat jatuh hampir 15 persen di awal sesi, namun memangkas sebagian kerugian setelah Iran menyatakan meluncurkan serangan baru ke Israel dan lokasi lain di Timur Tengah, sekaligus membantah adanya negosiasi dengan AS.
Garda Revolusi Iran juga menyatakan akan menyerang pembangkit listrik Israel serta fasilitas yang memasok pangkalan militer AS di kawasan Teluk jika Washington melanjutkan ancaman untuk “menghancurkan” jaringan listrik Iran.
Perang ini telah merusak fasilitas energi utama di kawasan Teluk dan secara efektif menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair global.
Dua kapal tanker menuju India tercatat melintasi Selat Hormuz pada Senin dengan membawa LPG dari Uni Emirat Arab dan Kuwait, meski lalu lintas secara keseluruhan masih terhambat.
Analis memperkirakan kehilangan produksi minyak Timur Tengah mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis Timur Tengah saat ini lebih buruk dibandingkan dua guncangan minyak pada 1970-an jika digabungkan.
Krisis pasokan juga mendorong pelonggaran sementara sanksi AS terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut.
Perusahaan kilang asal India berencana kembali membeli minyak Iran, sementara kilang lain di Asia tengah mempertimbangkan langkah serupa, menurut para trader kepada Reuters.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan negaranya sangat kecil kemungkinan melepas cadangan dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menenangkan pasar energi selama perang Iran berlangsung.
Di Rusia, pelabuhan Baltik Ust-Luga kembali memuat minyak setelah peringatan serangan drone dicabut, sementara pelabuhan Primorsk masih ditutup akibat serangan udara, memperparah kekurangan pasokan global.
Di AS, Gubernur Federal Reserve Stephen Miran mengatakan masih terlalu dini menilai dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi, meski ia tetap melihat ruang penurunan suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja.
Bank sentral seperti The Fed menggunakan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, di mana suku bunga lebih rendah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.
Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) tengah menyiapkan penyesuaian kebijakan pada April, membuka peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat seiring pelemahan yen dan tekanan inflasi akibat konflik Timur Tengah.
Pemerintah Jepang juga mempertimbangkan intervensi di pasar berjangka minyak mentah karena lonjakan harga energi.
Di Eropa, survei European Commission menunjukkan kepercayaan konsumen zona euro turun ke level terendah sejak akhir 2023, mencerminkan dampak perang Iran dan lonjakan harga energi terhadap ekonomi.
Secara global, perjalanan udara masih terganggu parah setelah perang Iran memaksa penutupan sejumlah hub utama Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, membuat puluhan ribu penumpang terlantar. (Aldo Fernando)