Harga Minyak Berpeluang Naik Lagi jika Gangguan Selat Hormuz Berlanjut
Harga minyak mentah Brent menguat lebih dari 1,5 persen di awal perdagangan Senin (22/6/2026), menembus level USD82 per barel.
IDXChannel - Harga minyak mentah Brent menguat lebih dari 1,5 persen di awal perdagangan Senin (22/6/2026), menembus level USD82 per barel, sedangkan WTI berada di USD78 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai yang berkelanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di tengah kembali memanasnya risiko geopolitik di Timur Tengah.
Meski kedua negara melanjutkan pembicaraan di Swiss, nota kesepahaman yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju penurunan tensi konflik disebut mulai kehilangan momentum.
Mengutip Trading Economics, Iran menyatakan AS gagal mengamankan gencatan senjata di Lebanon dan kembali menghentikan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Teheran juga menyebut pembicaraan pada Minggu tidak akan membahas isu-isu substantif, termasuk program nuklir Iran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran apabila negara tersebut tidak menghentikan dukungannya terhadap kelompok proksi di Lebanon.
Trump juga mengancam akan menerapkan tarif jika kesepakatan tidak tercapai serta memperingatkan Teheran agar tidak menutup Selat Hormuz.
Analis FXEmpire James Hyerczyk mengatakan kontrak berjangka minyak mentah berpotensi mengalami reli setelah langkah Iran terkait Selat Hormuz kembali membangkitkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Pelaku pasar kini mencermati level teknikal penting pada minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent seiring meningkatnya kembali risiko geopolitik.
"Jika lalu lintas kapal tetap terbatas dan pembicaraan di Swiss tidak menghasilkan apa pun, minyak mentah akan bergerak lebih tinggi dan posisi short harus melakukan aksi beli untuk menutup posisi," ujar Hyerczyk.
Menurut dia, perkembangan terbaru membuat premi risiko perang yang sebelumnya mulai mereda kembali masuk ke dalam perhitungan pasar.
"Kesepakatan yang seharusnya menghapus premi perang justru runtuh secara langsung, dan kedua pihak memberikan alasan kepada pasar untuk menilai ulang risiko pasokan dari awal," katanya.
Untuk minyak WTI, Hyerczyk melihat kontrak berjangka Agustus berada dalam area nilai jangka panjang setelah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Level USD77,75 menjadi titik kunci yang perlu diperhatikan karena dapat menjadi pemicu kenaikan menuju USD83,13.
Meskipun tren utama masih berada dalam tekanan turun berdasarkan pergerakan rata-rata 50 hari (MA-50), pasar berpotensi mengalami reli berlawanan arah tren.
Jika harga mampu menembus USD83,13, target berikutnya berada di kisaran USD86,47 hingga USD87,63, area yang berdekatan dengan MA-50 dan menjadi hambatan teknikal yang lebih kuat.
Sementara itu, minyak Brent menunjukkan pola serupa. Kontrak berjangka Agustus Brent masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) pada USD74,89 dan berada dalam zona retracement jangka panjang antara USD83,55 hingga USD77,70.
Level USD83,55 menjadi kunci bagi Brent. Jika mampu dilewati, harga berpotensi bergerak menuju USD87,77 dan kemudian USD92,44.
Namun, jika level tersebut gagal ditembus dan tensi geopolitik mereda, harga minyak kemungkinan kembali bergerak dalam rentang terbatas dengan rata-rata 200 hari sebagai penopang.
Pasar kini menunggu perkembangan pembukaan perdagangan awal pekan untuk melihat apakah pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz benar-benar berlangsung.
Jika pasokan minyak terancam terganggu, risiko kenaikan harga akan kembali menguat. Sebaliknya, kemajuan diplomasi dapat membatasi reli dan menjaga harga tetap dalam kisaran perdagangan. (Aldo Fernando)