MARKET NEWS

Harga Minyak Dunia Dekati Level Tertinggi 4 Tahun

TIM RISET IDX CHANNEL 31/03/2026 07:10 WIB

Harga minyak dunia naik pada Senin (30/3/2026) seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah dan keterlibatan kelompok Houthi dari Yaman.

Harga Minyak Dunia Dekati Level Tertinggi 4 Tahun. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia naik pada Senin (30/3/2026) seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah dan keterlibatan kelompok Houthi dari Yaman yang memicu kekhawatiran terhadap jalur pelayaran di Laut Merah.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,3 persen ke USD102,88 per barel, menjadi penutupan tertinggi sejak Juli 2022.

Sementara itu, Brent untuk pengiriman Mei naik tipis 0,2 persen ke USD112,78 per barel menjelang kedaluwarsa kontrak, sedangkan kontrak paling aktif untuk Juni menguat 2,6 persen ke USD108,01 per barel.

Harga minyak acuan global memperpanjang kenaikan pada Senin dan mendekati kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.

Analis Mizuho Robert Yawger mengatakan, seperti dikutip Dow Jones Newswires, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mencoba menekan harga minyak lebih rendah pada pagi hari, namun upaya tersebut kembali gagal untuk hari perdagangan kedua berturut-turut.

Trump dalam unggahan di Truth Social menyebut ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran, tetapi kembali menegaskan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran jika kesepakatan tidak segera tercapai.

Managing Director Wealth Management Arbuthnot Latham Eren Osman, dikutip Reuters, mengatakan minyak saat ini menjadi pusat perhatian pasar. Ia menilai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci untuk menenangkan pasar global.

Osman menambahkan tantangan terbesar bagi investor saat ini adalah rentang kemungkinan yang sangat luas, meskipun ia tidak memperkirakan konflik berlangsung lama karena Trump dinilai memiliki batas toleransi terhadap kerugian pasar.

Analis senior geoeconomics Commonwealth Bank of Australia Madison Cartwright mengatakan kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia, membuat negara tersebut memiliki sedikit insentif untuk mengalah, sehingga perang diperkirakan berlangsung setidaknya hingga Juni.

Pengetatan akses di Selat Hormuz telah mendorong lonjakan harga minyak, gas, pupuk, plastik, dan aluminium, termasuk bahan bakar pesawat dan kapal. Harga pangan, farmasi, dan produk petrokimia juga diperkirakan naik.

Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman mengatakan jika Selat Hormuz tetap ditutup selama satu bulan tambahan, maka harga minyak dapat naik mendekati USD150 per barel dan pasokan energi bagi sektor industri akan semakin terbatas. (Aldo Fernando)

SHARE