Harga Minyak Dunia Terbang 27 Persen ke Atas USD100 di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah
Harga minyak berjangka melonjak menembus USD100 per barel pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (9/3/2026) seiring konflik di Timur Tengah.
IDXChannel - Harga minyak dunia melonjak menembus USD100 per barel pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (9/3/2026) seiring konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi di kawasan tersebut.
Kontrak berjangka (futures) minyak jenis Brent melesat 23 persen menjadi USD114,36 per barel, kenaikan harian terbesar setidaknya sejak 1988, setelah sebelumnya sudah melonjak 28 persen sepanjang pekan lalu.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (AS) melonjak tajam 27 persen ke level USD115,11 per barel, memicu kekhawatiran lonjakan cepat harga bensin.
Di tengah konflik dengan AS dan Israel, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi.
Langkah ini memberi sinyal bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali kuat di Teheran pada pekan pertama konflik tersebut.
Penunjukan itu diperkirakan tidak disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyebut putra Khamenei tersebut sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.
Dengan belum terlihat tanda-tanda meredanya permusuhan di Timur Tengah dan kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, investor bersiap menghadapi periode panjang biaya energi yang tinggi.
Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman menilai perekonomian global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.
“Perekonomian global tetap bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam Timur Tengah melalui Selat Hormuz,” ujarnya, dikutip Reuters.
Menurut Kasman, skenario jangka pendek menunjukkan harga minyak dapat melonjak mendekati USD120 per barel sebelum kemudian mereda jika konflik segera mereda.
“Namun tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan pada level tinggi sekitar USD80 per barel hingga pertengahan tahun,” katanya.
Kasman menambahkan, kondisi tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6 persen secara tahunan pada paruh pertama tahun ini, sekaligus mendorong kenaikan harga konsumen sekitar 1 persen.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang lebih luas dan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak jauh melampaui USD120 per barel dan meningkatkan risiko resesi global.
Kabar tersebut menjadi pukulan bagi Jepang, salah satu importir utama minyak dan gas. Indeks Nikkei anjlok 7,5 persen setelah sebelumnya turun 5,5 persen pada pekan lalu.
Pasar saham Korea Selatan (KOSPI) juga terkoreksi tajam dengan penurunan 8,1 persen dan sempat terimbas penghetian perdagangan (trading halt) otomatis, setelah sebelumnya sudah merosot lebih dari 10 persen pada pekan lalu.
China, yang juga merupakan importir minyak besar meski memiliki cadangan minyak mentah besar, mencatat penurunan indeks saham unggulan sebesar 2,3 persen.
Pada Senin, China melaporkan inflasi mulai meningkat pada Februari bahkan sebelum lonjakan harga minyak terbaru, dengan indeks harga konsumen naik 1,3 persen secara tahunan.
Kondisi ini tidak sepenuhnya negatif mengingat negara tersebut selama ini menghadapi tekanan disinflasi.
Bank Sentral Hadapi Dilema Inflasi
Gelombang aksi jual juga melanda Wall Street, dengan futures S&P 500 turun 2,1 persen dan kontrak Nasdaq merosot 2,5 persen.
Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 3,2 persen, sementara kontrak FTSE melemah 1,7 persen.
Di pasar obligasi, kekhawatiran inflasi yang meningkat mengalahkan minat terhadap aset aman sehingga mendorong imbal hasil naik secara global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 4,204 persen, dari posisi terendah 3,926 persen yang tercatat sepekan lalu.
Kontrak berjangka suku bunga juga melemah karena investor khawatir inflasi yang lebih tinggi akan menyulitkan Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter, meski data ketenagakerjaan yang mengecewakan sebelumnya mendukung kebutuhan stimulus.
Data inflasi konsumen AS yang akan dirilis Rabu diperkirakan menunjukkan laju tahunan tetap di level 2,4 persen pada Februari.
Sementara itu, ukuran inflasi inti yang menjadi acuan utama The Fed akan dirilis pada Jumat dan diperkirakan bertahan di level 3,0 persen, masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2 persen, dengan analis melihat potensi angka yang bahkan lebih tinggi.
Risiko inflasi yang dipicu lonjakan energi membuat pasar mulai berspekulasi bahwa langkah berikutnya dari Bank Sentral Eropa (ECB) justru dapat berupa kenaikan suku bunga, bahkan mungkin terjadi secepatnya pada Juni.
Untuk Bank of England, pasar kini hanya memperkirakan peluang sekitar 40 persen untuk satu kali pelonggaran tambahan, dibanding sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan atau lebih sebelum konflik Timur Tengah meletus.
Di tengah ketidakpastian tersebut, investor cenderung mencari likuiditas dolar AS sambil menghindari mata uang negara-negara pengimpor energi bersih, termasuk Jepang dan sebagian besar negara Eropa.
Kepala Riset Makro Asia (di luar Jepang) di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan Asia menjadi kawasan yang paling terdampak oleh lonjakan tajam harga minyak.
“Asia menanggung dampak terbesar dari lonjakan harga minyak, dan hampir tidak ada tempat aman untuk berlindung,” ujarnya. (Aldo Fernando)