Harga Minyak Melemah, Sentimen Timur Tengah Masih Membayangi
Harga minyak dunia melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (4/5/2026), di tengah sentimen pasar yang cenderung risk-on.
DXChannel – Harga minyak dunia melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (4/5/2026), di tengah sentimen pasar yang cenderung risk-on namun masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Kontrak minyak mentah WTI untuk pengiriman terdekat tercatat turun 0,5 persen ke level USD101,45 per barel. Sementara itu, minyak Brent melemah 0,2 persen ke posisi USD107,93 per barel.
Pelemahan ini terjadi seiring munculnya proposal baru dari Iran kepada Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.
Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum puas dengan proposal tersebut, sehingga sedikit meredam optimisme pasar.
Analis ANZ Research, dikutip Dow Jones Newswires, menilai proposal tersebut sempat mendorong minat risiko, tetapi komentar Trump membuat sentimen kembali tertahan.
Di sisi lain, pasar juga merespons pernyataan Trump yang menyebut AS akan mulai mengawal kapal-kapal komersial keluar dari Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Dari sisi pasokan, kelompok OPEC+ mengumumkan, pada Minggu (3/5), peningkatan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni.
Langkah ini dinilai lebih bersifat simbolis di tengah gangguan pasokan akibat konflik yang masih berlangsung.
Keputusan tersebut diambil bersama sejumlah negara produsen utama seperti Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Sementara Uni Emirat Arab (UEA) tidak lagi terlibat setelah resmi keluar dari OPEC per 1 Mei.
Meski ada tambahan pasokan, pasar menilai dampaknya masih terbatas selama Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali dibuka.
Jalur vital tersebut praktis tertutup sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, yang menghambat distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat, pemulihan infrastruktur energi di kawasan diperkirakan memerlukan waktu, sehingga risiko terhadap pasokan global masih akan bertahan dalam jangka pendek. (Aldo Fernando)