Harga Minyak Melonjak 6 Persen, Sentuh Level Tertinggi Beberapa Pekan
Harga minyak melonjak lebih dari 6 persen pada Rabu (29/4/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam beberapa pekan.
IDXChannel - Harga minyak melonjak lebih dari 6 persen pada Rabu (29/4/2026) dan ditutup di level tertinggi dalam beberapa pekan, seiring mandeknya negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran yang memicu kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan berkepanjangan dari Timur Tengah.
Data pemerintah AS menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah dan bahan bakar mingguan yang lebih besar dari perkiraan, sehingga turut mendorong kenaikan harga.
Kontrak berjangka minyak Brent crude untuk pengiriman Juni naik untuk delapan hari berturut-turut dan ditutup melesat 6,1 persen ke USD118,03 per barel, tertinggi sejak 31 Maret.
Acuan global ini bahkan melanjutkan kenaikan setelah penutupan perdagangan hingga menyentuh USD120 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2022.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk Juni melambung 7 persen ke USD106,88 per barel, tertinggi sejak 7 April.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut, seperti dikutip Reuters, Presiden AS Donald Trump telah meminta perusahaan minyak AS mencari cara untuk meredam dampak potensi blokade pelabuhan Iran oleh AS yang bisa berlangsung berbulan-bulan.
Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dapat berlangsung lebih lama.
Menurut perhitungan Reuters hingga pertengahan April, lebih dari USD50 miliar pasokan minyak mentah telah hilang sejak dimulainya perang Iran.
“Jika Trump siap memperpanjang blokade, gangguan pasokan akan semakin parah dan terus mendorong harga minyak lebih tinggi,” ujar analis Haitong Futures, Yang An.
Tanda-tanda pengetatan pasokan mulai terlihat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih dari 6 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan analis yang hanya sekitar 200.000 barel.
Persediaan bensin dan bahan bakar distilat AS, yang sebagian besar terdiri dari diesel, juga turun lebih dalam dari perkiraan.
Hal ini memicu kekhawatiran potensi kekurangan pasokan di negara dengan konsumsi bahan bakar terbesar, terutama saat musim berkendara musim panas mulai berlangsung.
“Harga diperkirakan mendapat dukungan baru seiring mendekatnya musim panas, ketika permintaan produk meningkat dan bertemu dengan keterbatasan pasokan,” tulis analis RBC Capital Markets.
Di sisi lain, Abu Dhabi National Oil Company memberi tahu sebagian pelanggannya bahwa mereka dapat memuat dua jenis minyak mentah di luar Teluk bulan depan, karena Selat Hormuz masih ditutup, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Investor juga menilai dampak keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari OPEC.
Analis tidak melihat dampak besar dalam jangka pendek.
“Dalam waktu dekat, produsen Timur Tengah diperkirakan tetap memasok minyak semaksimal mungkin ke pasar,” ujar Kepala Komoditas Investec, Callum Macpherson.
Meski begitu, keluarnya UEA dinilai sebagai retakan paling signifikan dalam sejarah OPEC dan meningkatkan risiko kelebihan pasokan yang bisa menekan harga minyak mulai 2027, menurut Wood Mackenzie.
“Kepergian UEA dari OPEC berdampak minimal terhadap fundamental pasar pada 2026, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka,” kata Kepala Analis Wood Mackenzie, Simon Flowers.
Ia menambahkan, “Namun setelah tahun ini, absennya UEA akan memperbesar tantangan OPEC dalam menjaga keseimbangan pasar dan meningkatkan risiko kelebihan pasokan yang dapat melemahkan harga.” (Aldo Fernando)