MARKET NEWS

Harga Minyak Melonjak 7 Persen di Tengah Memanasnya Konflik Iran Vs AS-Israel

TIM RISET IDX CHANNEL 02/03/2026 08:52 WIB

Harga minyak melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin (2/3), usai Iran dan Israel meningkatkan serangan di Timur Tengah.

Harga Minyak Melonjak 7 Persen di Tengah Memanasnya Konflik Iran Vs AS-Israel. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia melonjak 7 persen ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin (2/3/2026), usai Iran dan Israel meningkatkan serangan di Timur Tengah yang merusak kapal tanker serta mengganggu pengiriman dari kawasan produsen utama tersebut.

Kontrak berjangka (futures) Brent sempat melesat ke USD82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, dalam perdagangan pertama setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada Sabtu.

Hingga pukul 07.54 WIB, Brent berada di USD78,24 per barel, terbang 7,37 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 6,95 persen menjadi USD71,68 per barel, setelah sempat menyentuh USD75,33, tertinggi sejak Juni 2025.

Melansir dari Reuters, Israel meluncurkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu dan Iran membalas dengan rentetan rudal tambahan, sehari setelah tewasnya Ali Khamenei yang mendorong Timur Tengah dan ekonomi global ke dalam ketidakpastian yang semakin dalam.

Serangan tersebut membuat kapal-kapal rentan terkena dampak lanjutan, setelah rudal menghantam sedikitnya tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan menewaskan satu pelaut, menurut sumber pelayaran dan pejabat setempat.

Iran menyatakan telah menutup jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, memicu pemerintah dan kilang di Asia, sebagai pembeli utama, untuk mengevaluasi cadangan minyak mereka.

 “Dengan aksi balasan yang kini berkembang menjadi serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, ancaman terhadap pasokan minyak meningkat secara signifikan,” kata analis ANZ Daniel Hynes.

Analis Citi memperkirakan Brent bergerak di kisaran USD80 hingga USD90 per barel pekan ini di tengah konflik yang berlangsung.

“Pandangan dasar kami adalah kepemimpinan Iran berubah, atau rezim berubah cukup signifikan untuk menghentikan perang dalam satu hingga dua pekan, atau AS memutuskan melakukan de-eskalasi setelah melihat perubahan kepemimpinan dan kemunduran program rudal serta nuklir Iran dalam periode yang sama,” ujar analis Citi.

Di tengah konflik, OPEC+ pada Minggu menyepakati kenaikan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk April.

Analis RBC Capital Helima Croft mengatakan hampir seluruh produsen OPEC+ saat ini memproduksi mendekati kapasitas penuh, kecuali Arab Saudi.

“Pemanfaatan kapasitas cadangan akan sangat terbatas jika jalur perairan penting menjadi tidak dapat beroperasi,” ujarnya.

Risiko terhadap pelayaran komersial melonjak dalam 24 jam terakhir, dengan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan gas cair, menjatuhkan jangkar di sekitar selat dan perairan sekitarnya, menurut data pelayaran pada Minggu.

Direktur Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan lembaganya secara aktif memantau perkembangan di Timur Tengah dan berkomunikasi dengan produsen utama di kawasan serta negara-negara anggota IEA.

Lembaga ini mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) dari negara maju saat keadaan darurat.

“Total persediaan minyak global yang terlihat saat ini mencapai 7,827 juta barel, mendekati median historisnya jika dinyatakan setara dengan 74 hari permintaan global,” tulis analis Goldman Sachs.

Mereka menambahkan, “Pasar minyak dapat menarik persediaan, memanfaatkan kapasitas cadangan setelah Selat Hormuz kembali dibuka, dan berpotensi memperoleh dukungan dari pelepasan cadangan strategis global.” (Aldo Fernando)

SHARE