sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Berpotensi Volatil Pekan Ini, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah hingga Tekanan Fiskal Domestik

Market news editor Anggie Ariesta
02/03/2026 08:15 WIB
Pasar saat ini tengah diselimuti kehati-hatian tingkat tinggi akibat kombinasi memuncaknya tensi geopolitik global.
IHSG Berpotensi Volatil Pekan Ini, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah hingga Tekanan Fiskal Domestik. Foto: iNews Media Group.
IHSG Berpotensi Volatil Pekan Ini, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah hingga Tekanan Fiskal Domestik. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak variatif dengan kecenderungan konsolidasi mulai pekan ini, Senin (2/3/2026). Pergerakan indeks diperkirakan berada pada rentang support 8.031 dan resistance 8.437, menyusul koreksi sebesar 0,44 persen atau 36,28 poin ke level 8235 pada perdagangan pekan lalu (23–27 Februari 2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengungkapkan bahwa pasar saat ini tengah diselimuti kehati-hatian tingkat tinggi akibat kombinasi memuncaknya tensi geopolitik global, perubahan kebijakan dagang Amerika Serikat (AS), serta peringatan terkait kesehatan fiskal Indonesia.

Sentimen utama global dipicu oleh eskalasi militer besar-besaran di Timur Tengah. AS dan Israel meluncurkan serangan udara terhadap fasilitas strategis Iran yang memicu balasan rudal balistik ke berbagai pangkalan AS di kawasan Teluk.

"Pada tingkat global, ketegangan militer di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran, termasuk kompleks militer dan fasilitas yang diperkirakan terkait program rudal dan nuklir Teheran, dalam operasi yang diberi kode Operation Epic Fury," kata Imam dalam risetnya, Senin (2/3/2026).

Konflik ini berdampak langsung pada ekonomi dunia setelah Iran membatasi akses ke Selat Hormuz, jalur vital yang mendistribusikan sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia. Penutupan jalur ini mengancam stabilitas harga energi global dan melonjakkan biaya asuransi pengiriman maritim.

Dari sisi kebijakan ekonomi, AS kembali memicu ketidakpastian setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian tarif impor global era Trump. Sebagai respons, Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen. 

Lebih spesifik bagi Indonesia, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya asal RI dengan tarif berkisar 86 persen hingga 143,3 persen.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement