MARKET NEWS

Harga Minyak Naik 1 Persen, Serangan Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan

TIM RISET IDX CHANNEL 15/09/2026 06:44 WIB

Harga minyak mentah ditutup sekitar 1 persen lebih tinggi pada Senin (14/9/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi.

Harga Minyak Naik 1 Persen, Serangan Saudi Picu Kekhawatiran Pasokan. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga minyak mentah ditutup sekitar 1 persen lebih tinggi pada Senin (14/9/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi setelah serangan baru menghantam infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.

Kedua harga acuan minyak sempat melonjak hampir 5 persen sebelum memangkas kenaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.

Harga minyak Brent berjangka (futures) naik 1 persen menjadi USD105,68 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 1,3 persen menjadi USD101,39 per barel.

Melansir dari Reuters, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi.

Pada saat yang sama, negara-negara Arab di kawasan Teluk menunda pembicaraan yang telah direncanakan dengan Iran. Perkembangan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat meluas dan mengancam pasokan minyak global.

Houthi mengatakan telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, Arab Saudi bagian selatan.

Serangan tersebut menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi sebagai aksi balasan atas serangan udara Arab Saudi di Yaman.

Dalam beberapa hari terakhir, Houthi juga bergerak cepat di Yaman dan merebut sejumlah wilayah, termasuk Pulau Perim di mulut Laut Merah pada Jumat (11/9).

Pada hari yang sama, serangan terpisah yang disebut Riyadh dilakukan oleh kelompok yang didukung Iran di Irak melumpuhkan jaringan pipa minyak Arab Saudi yang membentang dari timur ke barat.

Pipa tersebut memungkinkan ekspor minyak dari kawasan Teluk melewati Selat Hormuz yang tengah diblokade. Gangguan pada pipa tersebut mengancam hingga 4 persen pasokan minyak global.

Sementara itu, lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya satu digit per hari pada akhir pekan, berdasarkan data awal pelacakan kapal yang dirilis pada Senin. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal per hari.

Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Dengan pipa timur-barat Arab Saudi masih tidak beroperasi, pelabuhan Laut Merah Yanbu harus mengandalkan persediaan minyak yang tersimpan.

Berdasarkan keterangan tiga sumber industri, persediaan tersebut diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor selama lima hingga tujuh hari.

Perkembangan tersebut membuat risiko gangguan pasokan minyak global kembali menjadi perhatian pasar, terutama jika eskalasi konflik Timur Tengah terus menghambat jalur distribusi energi utama. (Aldo Fernando)

SHARE