sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Bursa Global Melemah, Yield Obligasi AS Tembus 5 Persen Tekan Wall Street

Market news editor Nia Deviyana
15/09/2026 06:08 WIB
Di Wall Street, saham sektor teknologi dan industri memimpin penurunan di ketiga indeks utama.
Bursa Global Melemah, Yield Obligasi AS Tembus 5 Persen Tekan Wall Street. Foto: AP.
Bursa Global Melemah, Yield Obligasi AS Tembus 5 Persen Tekan Wall Street. Foto: AP.

IDXChannel - Saham-saham global ditutup melemah pada Senin (14/9/2026) waktu setempat seiring lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah menekan selera terhadap aset berisiko.

Di Wall Street, saham sektor teknologi dan industri memimpin penurunan di ketiga indeks utama. Saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) juga tertekan setelah pimpinan OpenAI dan Anthropic menyerukan perlambatan pengembangan AI untuk mengelola risiko dan melindungi umat manusia.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 0,29 persen, S&P 500 (.SPX) melemah 0,48 persen, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 0,56 persen.

Indeks saham semikonduktor Philadelphia (.SOX) anjlok 5,9 persen.

Di Eropa, indeks STOXX 600 (.STOXX) turun 0,49 persen. Kenaikan saham minyak dan gas terimbangi oleh penurunan saham teknologi, yang terseret turun setelah kekhawatiran yang disampaikan CEO Anthropic Dario Amodei dalam sebuah surat mendapat dukungan dari Elon Musk, pemimpin xAI, dan CEO OpenAI Sam Altman.

Indeks MSCI yang mengukur kinerja saham di seluruh dunia (.MIWD00000PUS) turun 0,65 persen.

“Pasar memang turun, tetapi secara mengejutkan masih cukup tangguh di tengah banyaknya kekhawatiran, termasuk suku bunga, harga minyak, ketidakpastian The Fed, serta perdebatan mengenai pengembangan AI,” kata kepala strategi pasar di Nationwide, Mark Hackett.

Kontrak berjangka Brent ditutup naik 1 persen menjadi USD105,68 per barel, setelah melonjak hampir 9 persen pada pekan lalu. Harga diesel, bensin, dan bahan bakar jet kini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang Iran, sehingga secara langsung membebani konsumen.

Jalur pipa East-West milik Arab Saudi ditutup sementara setelah serangan drone, menurut pejabat Arab Saudi. Penutupan pipa yang memungkinkan Arab Saudi menghindari Selat Hormuz dengan mengalihkan pengiriman minyak ke Laut Merah tersebut mengancam hingga 4 persen pasokan minyak global.

“Belum ada drama nyata di pasar saham meski imbal hasil mencapai 5 persen dan harga minyak tinggi. Namun, jelas ada satu hal yang harus kita tambahkan dalam perhitungan. Jika gangguan di Hormuz berlanjut, kita harus memperhitungkan beberapa kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral, dan itulah yang saat ini diperkirakan pasar,” kata Kepala Ekonom Lombard Odier Samy Chaar.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement