IDXChannel - Wall Street atau bursa saham AS ditutup melemah pada hari Kamis di tengah lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury, setelah laporan inflasi produsen utama menunjukkan percepatan angka utama pada bulan Agustus.
Hal ini mendorong para pedagang untuk meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve pekan depan. Adapun harga minyak yang tinggi juga turut membebani sentimen pasar.
Dilansir Investing Jumat (11/9/2026), indeks acuan S&P 500 turun 0,6 persen dan ditutup pada level 7.592,12 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,7 persen menjadi 26.081,73 poin, dan indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average melemah 0,6 persen ke posisi 52.064,46 poin.
Setelah mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa pada pertengahan Agustus dan membukukan sedikit kenaikan pada bulan tersebut, Wall Street kini menghadapi tantangan seiring beralihnya fokus pasar dari kinerja laba perusahaan yang kuat ke kondisi makroekonomi yang tidak menentu.
Saat ini, posisi indeks S&P berada 2,7 persen di bawah rekor penutupan tertingginya. "Pergerakan hari ini memperkuat tren yang selama ini kami soroti, pasar telah beralih dari lingkungan yang didorong oleh kinerja laba dengan sentimen positif, menuju kondisi yang lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan situasi yang tidak merata. Suku bunga, inflasi, harga minyak, dan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed kembali menjadi sorotan utama," ujar Chief Investment Officer sekaligus Chief Market Strategist di Truist Keith Lerner kepada Investing.com.