sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Berakhir di Zona Merah, Indeks S&P 500 cs Kompak Ditutup Melemah

Market news editor Kunthi Fahmar Sandy
10/09/2026 06:41 WIB
Sentimen pasar sudah tertekan akibat harga minyak acuan global yang menembus angka USD100 per barel untuk pertama kalinya dalam kurun waktu tiga setengah bulan.
Wall Street Berakhir di Zona Merah, Indeks S&P 500 cs Kompak Ditutup Melemah (FOTO:iNews Media Group)
Wall Street Berakhir di Zona Merah, Indeks S&P 500 cs Kompak Ditutup Melemah (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Pasar saham AS pada hari Rabu berakhir di zona merah, dan obligasi pemerintah mengalami aksi jual setelah pembaruan informasi dari Departemen Keuangan mengenai operasi pembelian kembali (buyback) yang mengecewakan para investor.

Dilansir dari laman Investing Kamis (10/9/2026), sebelumnya, sentimen pasar sudah tertekan akibat harga minyak acuan global yang menembus angka USD100 per barel untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar tiga setengah bulan.

Selain itu, pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang dapat memperkuat perkiraan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada akhir bulan ini.

Di sisi lain, saham Apple bangkit dari level terendah sesi perdagangan namun berakhir turun 0,3 persen. Raksasa teknologi tersebut memperkenalkan iPhone Duo, versi lipat pertama dari ponsel pintar unggulannya.

Indeks acuan S&P 500 turun 0,5 persen dan ditutup pada level 7.638,95 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi melemah 0,6 persen ke posisi 26.253,34 poin, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,8 persen dan berakhir di angka 52.381,08 poin.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak tajam setelah para pedagang instrumen pendapatan tetap melepas obligasi mereka.

Aksi jual ini dipicu oleh pernyataan Departemen Keuangan AS yang akan melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi dengan tenor 10 hingga 20 tahun senilai hingga USD6 miliar, meningkat dari rencana sebelumnya yang sebesar USD2 miliar.

Sebelumnya pada bulan lalu, departemen tersebut menyatakan akan menaikkan nilai pembelian kembali menjadi setidaknya USD4 miliar, sementara laporan media menyebutkan bahwa pasar sebelumnya memperkirakan angka minimal USD10 miliar.

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun tercatat naik 4,8 basis poin menjadi 4,846 persen. Sebelum pengumuman tersebut, imbal hasil ini sempat naik 1,2 basis poin ke level 4,816 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 2 tahun naik 2,7 basis poin menjadi 4,425 persen.

Langkah Departemen Keuangan tersebut dipandang sebagai tindakan intervensi tak terduga, untuk membatasi lonjakan imbal hasil (yield) di tengah penurunan tajam harga obligasi pemerintah yang terus berlanjut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Selasa mengatakan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk meredam gejolak panas di pasar obligasi. "Saat berspekulasi, Anda ingin mempercepat segalanya. Anda ingin meraup keuntungan sebesar mungkin dalam waktu sesingkat mungkin," ujarnya dalam sebuah acara Breitbart News.

(kunthi fahmar sandy)

Advertisement
Advertisement