Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi Sebulan usai AS Berlakukan Lagi Blokade Laut Iran
Harga minyak dunia naik hampir 2 persen ke level tertinggi dalam satu bulan pada Selasa (14/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade.
IDXChannel – Harga minyak dunia naik hampir 2 persen ke level tertinggi dalam satu bulan pada Selasa (14/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran, yang diperkirakan mengurangi arus pasokan minyak dari kawasan tersebut melalui Selat Hormuz.
Sebelum perang dengan Iran pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman terdekat naik 1,7 persen menjadi USD84,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,5 persen menjadi USD79,34 per barel.
Untuk hari kedua berturut-turut, Brent ditutup pada level tertinggi sejak 12 Juni, sedangkan WTI mencatat penutupan tertinggi sejak 15 Juni.
Kenaikan tersebut juga membuat Brent berada di wilayah overbought secara teknikal selama dua hari beruntun untuk pertama kalinya sejak Maret.
"Serangan antara AS dan Iran kembali meningkat pekan ini dan kemungkinan berlanjut setelah pemboman tambahan oleh AS semalam menyusul pemberlakuan kembali blokade AS di Selat Hormuz," tulis analis Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan, dikutip Reuters.
Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana mengenakan biaya sebesar 20 persen untuk pengawalan kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari konflik dengan Iran.
Sebagai gantinya, Trump mengatakan akan mengupayakan kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk.
Pasukan AS melancarkan gelombang serangan untuk malam ketiga berturut-turut setelah Teheran menyatakan telah menutup Selat Hormuz. Pada Senin, Trump kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran dan sempat mengusulkan biaya pengawalan tersebut.
Beberapa jam sebelum kebijakan itu berlaku, Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh kapal, kecuali kapal Iran.
Pernyataan tersebut sempat membuat harga minyak mentah AS berbalik melemah pada Selasa pagi.
Namun, harga kembali menguat setelah muncul laporan bahwa satu awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan rudal jelajah Iran terhadap dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab.
Serangan itu memicu keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu mampu menghasilkan penghentian permanen atas konflik yang telah mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran inflasi.
Pada awal Juli, ketika gencatan senjata antara AS dan Iran masih dipandang berpotensi bertahan, harga minyak Brent dan WTI diperdagangkan di kisaran level sebelum AS dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Sementara itu, data menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni seiring turunnya harga energi. Meski demikian, pasar keuangan masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga.
Ketua The Fed Kevin Warsh pada Selasa menegaskan akan menjalankan tugas saya jika mendapat tekanan dari Trump, yang berulang kali menyatakan menginginkan bank sentral memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. (Aldo Fernando)