MARKET NEWS

Harga Minyak Naik usai Trump Tolak Kembali ke Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Iran

TIM RISET IDX CHANNEL 28/08/2026 06:48 WIB

Harga minyak mentah naik pada perdagangan Kamis (27/8/2026), menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Harga Minyak Naik usai Trump Tolak Kembali ke Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Iran. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak mentah naik pada perdagangan Kamis (27/8/2026), menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Penguatan terjadi setelah laporan Wall Street Journal menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak berminat kembali ke ketentuan kesepakatan yang dicapai dengan Iran pada Juni lalu.

Mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, laporan itu menyebut pemerintahan Trump telah berulang kali menyampaikan kepada para mediator bahwa Washington tidak tertarik menghidupkan kembali kesepakatan Juni.

Kondisi tersebut memperumit berbagai upaya diplomatik yang dilakukan pekan ini untuk membuka kembali pembicaraan antara kedua negara.

Kontrak berjangka minyak Brent ditutup menguat 2,1 persen menjadi USD89,70 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 1,6 persen menjadi USD83,53 per barel.

Kedua harga acuan minyak tersebut kembali menguat setelah investor mengurangi ekspektasi terhadap terobosan diplomatik yang berpotensi meningkatkan kembali pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

"Kurangnya kemajuan dalam pembicaraan, ditambah arus pasokan yang terus terbatas, kemungkinan mendorong pasar menyesuaikan kembali pandangannya," kata Analis UBS Giovanni Staunovo, seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya pada Kamis, Washington mengonfirmasi bahwa AS tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran, meskipun sejumlah negara tengah berupaya mempertemukan kembali kedua pihak melalui jalur diplomatik.

"Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami juga tidak sedang mencari pertemuan atau semacamnya," kata Trump kepada wartawan di Oval Office.

Trump mengatakan AS berfokus memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran dan akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang melakukan bisnis dengan Republik Islam tersebut.

Pada Senin, AS mengumumkan apa yang disebutnya sebagai "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan operasi militer besar baru.

Sementara itu, Ebrahim Azizi, Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyebut sanksi tersebut sebagai "tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan", meskipun menurutnya efektivitas sanksi tersebut telah menurun.

Perdana Menteri Qatar juga mengunjungi Teheran pada Kamis untuk mendorong dimulainya kembali pembicaraan diplomatik guna mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, menjelang enam bulan sejak konflik tersebut dimulai.

Pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa Teheran akan menargetkan kepentingan militer dan ekonomi AS jika Washington melakukan "ulah" selama pembicaraan dengan pejabat Qatar.

"Inti perselisihan tetap berada pada program nuklir Iran dan persoalan tersebut kemungkinan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya serta daya tawar yang dimiliki Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian berkepanjangan masih ada," kata Head of Market Insights di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.

Arus pelayaran melalui selat tersebut sedikit membaik pada Rabu. Berdasarkan data Kpler, sebanyak 10 kapal komoditas melintasi jalur tersebut, meningkat dari titik terendah dalam beberapa waktu terakhir, tetapi masih di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.

Kapal yang keluar dari Selat Hormuz antara lain kapal tanker bahan bakar kelas medium-range, kapal tanker aspal, serta kapal pengangkut curah.

Di sisi lain, Kuwait Integrated Petroleum Industries Co yang merupakan perusahaan milik negara telah mengaktifkan kembali ketiga unit pengolahan minyak mentah di kilang Al-Zour berkapasitas 615.000 barel per hari. Per 19 Agustus, seluruh unit beroperasi pada kapasitas 60 persen, menurut konsultan IIR.

Kilang tersebut sebelumnya menjadi sasaran serangan drone Iran pada Mei lalu.

Di luar kawasan Timur Tengah, ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Rusia memperingatkan dapat menyerang target militer Inggris di dalam maupun luar Ukraina sebagai respons atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang dipasok Inggris.

Namun, Trump mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Trump juga mengecilkan laporan media yang menyebut Direktur CIA John Ratcliffe pekan ini telah memperingatkan pejabat Rusia agar tidak melakukan serangan semacam itu. Inggris merupakan salah satu negara pendiri NATO. (Aldo Fernando)

SHARE