Harga Minyak Pangkas Kenaikan usai Rencana Damai AS di Timur Tengah
Harga minyak dunia memangkas penguatan pada perdagangan Selasa (24/3/2026) dalam sesi yang volatil setelah sempat melonjak hampir 5 persen.
IDXChannel - Harga minyak dunia memangkas penguatan pada perdagangan Selasa (24/3/2026) dalam sesi yang volatil setelah sempat melonjak hampir 5 persen, menyusul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Reuters mengonfirmasi laporan tersebut dengan mengutip sumber yang mengetahui persoalan itu. The New York Times, mengutip dua pejabat, melaporkan rencana tersebut disampaikan melalui Pakistan.
Channel 12 Israel yang pertama kali memberitakan menyebutkan gencatan senjata selama satu bulan akan diumumkan melalui mekanisme yang tengah disusun utusan Timur Tengah AS Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Sebelum laporan itu muncul, kontrak berjangka (futures) Brent ditutup naik USD4,55 atau 4,55 persen ke USD104,49 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD4,22 atau 4,79 persen ke USD92,35 per barel.
Namun dalam perdagangan setelah penutupan, Brent memangkas kenaikan dan hanya naik 13 sen atau 0,13 persen menjadi USD100,07 per barel pada pukul 16.59 waktu New York, sedangkan WTI naik 29 sen atau 0,33 persen ke USD88,41 per barel.
Perdana Menteri Pakistan pada Selasa menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Tawaran ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan penundaan serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari, dengan alasan adanya pembicaraan dengan pejabat Iran yang menghasilkan “poin-poin kesepakatan besar”, yang sempat menekan harga minyak lebih dari 10 persen.
Iran pada Senin membantah telah melakukan negosiasi dengan AS.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan pasar menerima sinyal yang saling bertentangan.
Ia menilai pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pembicaraan tidak berjalan baik dan perang akan terus berlanjut.
Sumber Reuters menyebutkan posisi negosiasi Iran semakin keras sejak perang dimulai dan Teheran akan menuntut konsesi besar dari AS jika upaya mediasi berujung pada negosiasi serius.
Kedua acuan minyak sempat melonjak hampir 5 persen pada Selasa karena gangguan pasokan minyak mentah masih berlangsung.
Perang tersebut hampir menghentikan pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melalui Selat Hormuz, yang oleh Badan Energi Internasional (IEA) disebut sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.
Iran memberi tahu negara anggota International Maritime Organization bahwa kapal non-musuh masih dapat melintasi Selat Hormuz jika berkoordinasi dengan otoritas Iran, menurut laporan Financial Times. Setelah laporan itu, harga Brent dan WTI bergerak relatif stabil dari posisi penutupan.
Analis Tradu.com Nikos Tzabouras mengatakan kondisi di lapangan belum berubah karena Selat Hormuz pada dasarnya masih tertutup dan gangguan pasokan terus menekan pasar.
Iran juga meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Selasa. Tiga pejabat senior Israel yang enggan disebutkan namanya menilai Trump tampak bertekad mencapai kesepakatan, namun kecil kemungkinan Iran akan menyetujui tuntutan AS dalam putaran negosiasi baru.
Analis riset Global X Kenny Zhu mengatakan semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kemungkinan gangguan pengiriman sementara berubah menjadi dislokasi pasokan jangka panjang, sehingga proyeksi energi global mulai bergeser dari kelebihan pasokan menjadi potensi defisit.
Macquarie menyebutkan jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir April, harga Brent diperkirakan mencapai USD150 per barel, melampaui rekor tertinggi sepanjang masa USD147 per barel pada 2008.
Dalam serangan terbaru terhadap infrastruktur energi di kawasan, kantor perusahaan gas dan stasiun pengurang tekanan di kota Isfahan, Iran, dilaporkan terkena serangan, sementara sebuah proyektil menghantam pipa gas yang memasok pembangkit listrik di Khorramshahr, menurut kantor berita Fars. (Aldo Fernando)