Harga Minyak Sepekan Ditentukan OPEC+ dan Data Permintaan BBM AS
Pergerakan harga minyak dunia pada pekan ini diperkirakan sangat dipengaruhi oleh hasil pertemuan OPEC+ serta data awal musim berkendara (driving season) di AS.
IDXChannel - Pergerakan harga minyak dunia pada pekan ini diperkirakan sangat dipengaruhi oleh hasil pertemuan OPEC+ serta data awal musim berkendara (driving season) di Amerika Serikat (AS), yang akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.
Analis FX Empire James Hyerczyk menilai pasar saat ini tengah mencari titik keseimbangan setelah harga minyak terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut dia, keputusan OPEC+ terkait perpanjangan pemangkasan produksi sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari dan perkembangan konsumsi bensin di AS akan menjadi faktor kunci bagi harga minyak.
Hyerczyk menilai, perpanjangan pemangkasan produksi OPEC+ sebenarnya sudah banyak diperhitungkan pasar.
Karena itu, yang lebih penting adalah apakah seluruh anggota mampu mempertahankan disiplin produksi dan apakah permintaan bahan bakar benar-benar meningkat.
Dia menjelaskan, apabila OPEC+ memperpanjang pemangkasan produksi secara solid dan data konsumsi bensin menunjukkan peningkatan seiring dimulainya musim liburan musim panas di AS, maka prospek harga minyak berpeluang membaik.
Sebaliknya, sinyal ketidaksepakatan di dalam OPEC+ atau data permintaan bahan bakar yang lebih lemah dari ekspektasi dapat memicu tekanan jual baru di pasar minyak.
Selain faktor permintaan, pasar juga mencermati perkembangan pasokan dari negara-negara di luar OPEC.
Produksi minyak AS, khususnya dari wilayah Permian Basin, masih berada di dekat level tertinggi sepanjang sejarah berkat peningkatan produktivitas sumur dan kemajuan teknologi.
Produksi yang terus meningkat dari AS, Guyana, dan Brasil dinilai menjadi penyeimbang terhadap upaya OPEC+ dalam mengurangi pasokan global.
Di sisi lain, laporan ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada akhir pekan juga berpotensi memengaruhi harga minyak melalui pergerakan dolar AS.
Menurut Hyerczyk, data tenaga kerja yang kuat dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, sehingga menopang dolar AS dan menekan permintaan minyak global.
Sebaliknya, data yang lebih lemah berpotensi melemahkan dolar dan memberikan ruang bagi harga minyak untuk menguat.
Dari sisi teknikal, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli berada di area krusial USD87,76 per barel.
Selama level tersebut mampu dipertahankan, harga berpeluang menguji area resistensi USD91,21 hingga USD95,67 per barel.
Namun jika level USD87,76 ditembus ke bawah, tekanan jual dapat meningkat dan membuka peluang penurunan menuju kisaran USD80,24 hingga USD74,35 per barel.
Sementara itu, minyak Brent telah menunjukkan sinyal pelemahan setelah menembus area support minor USD99,77 per barel.
Hyerczyk memperkirakan Brent berpotensi menguji area nilai (value zone) di rentang USD89,76 hingga USD82,50 per barel apabila sentimen pasar memburuk. (Aldo Fernando)