MARKET NEWS

Harga Sudah Jatuh, Valuasi Saham Konglo Masih Mahal?

TIM RISET IDX CHANNEL 05/06/2026 10:43 WIB

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 tidak hanya menggerus kapitalisasi pasar, tetapi juga merontokkan saham-saham konglomerat.

Harga Sudah Jatuh, Valuasi Saham Konglo Masih Mahal? (Foto: Magnific)

IDXChannel – Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini tidak hanya menggerus kapitalisasi pasar, tetapi juga merontokkan saham-saham yang selama beberapa tahun terakhir menjadi simbol euforia pasar dan valuasi premium.

Saham-saham yang terafiliasi dengan sejumlah konglomerat besar Indonesia, mulai dari Prajogo Pangestu, keluarga Bakrie, hingga Haji Isam, kini banyak yang telah terkoreksi lebih dari 50 persen sejak awal tahun. Bahkan beberapa di antaranya jatuh hingga lebih dari 80 persen.

Namun di balik penurunan harga yang tajam tersebut, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibahas pelaku pasar: apakah saham-saham konglomerasi itu kini sudah murah, atau valuasinya masih tergolong mahal?

Tekanan terhadap pasar saham domestik memang datang dari berbagai arah. Pelemahan rupiah, derasnya arus keluar dana asing, ketidakpastian geopolitik di Iran, hingga kekhawatiran terkait posisi Indonesia dalam evaluasi indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell menjadi faktor yang membebani sentimen investor.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 09.40 WIB, IHSG merosot 2,11 persen ke level 5.716,58. Nilai transaksi mencapai Rp5,78 triliun dengan volume perdagangan 6,25 miliar saham.

Dengan posisi tersebut, IHSG telah terkoreksi 6,61 persen dalam sepekan, merosot 17,92 persen dalam sebulan, dan terkoreksi signifikan 33,80 persen sejak awal 2026.

Investor asing juga masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp68,50 triliun di pasar reguler sepanjang tahun berjalan.

Di tengah tekanan itu, kelompok saham milik konglomerat yang sebelumnya diperdagangkan pada valuasi sangat tinggi ikut menjadi sasaran aksi jual.

Kelompok Prajogo Pangestu menjadi salah satu yang mengalami koreksi paling dalam. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah merosot 80,14 persen sejak awal tahun ke level Rp1.385 per unit.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 70,51 persen ke Rp695, sementara PT Petrosea Tbk (PTRO) terkoreksi 65,31 persen ke Rp3.790.

Meski demikian, sebagian saham dalam grup ini masih diperdagangkan pada valuasi yang relatif tinggi. (Lihat tabel di bawah ini.)

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), misalnya, masih memiliki price to earnings ratio (PE) 215,59 kali dan price to book value (PBV) 43,61 kali meski harga sahamnya telah turun 61,13 persen sepanjang tahun menjadi Rp3.770 per unit. 

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang turun 59,28 persen ke Rp680 juga masih mencatat PE 50,50 kali dan PBV 4,66 kali. Sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memiliki PE 33,98 kali dan PBV 13,47 kali. (Lihat tabel di bawah ini.)

Berbeda dengan kelompok Prajogo, sejumlah saham Grup Bakrie terlihat diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah, meskipun koreksi harga juga cukup dalam. (Lihat tabel di bawah ini.)

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 61,48 persen ke Rp141 per saham dengan PE 36,14 kali dan PBV 1,89 kali. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) merosot 53,18 persen ke Rp515 dengan PE 82,87 kali dan PBV 3,39 kali.

Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang melemah 60,30 persen ke Rp266 tercatat memiliki PE hanya 2,50 kali dan PBV 1,37 kali. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang turun 25,31 persen ke Rp1.195 diperdagangkan pada PE 20,87 kali dan PBV 2,10 kali. (Lihat tabel di bawah ini.)

Dari kelompok Hapsoro, saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menjadi salah satu yang paling mencolok. Harga sahamnya telah turun 57,55 persen ke Rp590 per saham, namun masih memiliki PE mencapai 730,78 kali dan PBV 7,11 kali.

Kemudian, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) turun 58,88 persen ke Rp4.050 dengan PE 49,45 kali dan PBV 12,16 kali. Sementara PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melemah 49,67 persen ke Rp3.070 dengan PE 26,82 kali dan PBV 3,55 kali.

Tekanan juga terlihat pada saham milik Grup Sinar Mas. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat menjadi salah satu saham dengan koreksi terdalam setelah anjlok 83,54 persen sejak awal tahun ke level Rp660 per saham. Meski demikian, saham ini masih diperdagangkan pada PE 33,47 kali dan PBV 4,19 kali.

Dari kelompok Salim dan Agung Sedayu, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turun 54,56 persen ke Rp5.725 per unit dengan PE 61,88 kali dan PBV 3,75 kali. Sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 46,77 persen ke Rp3.420 dengan PE 27,27 kali dan PBV 2,66 kali.

Kelompok Haji Isam juga tidak luput dari tekanan. PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) turun 65,90 persen ke Rp890 per saham dengan PE 7,93 kali dan PBV 0,93 kali. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) melemah 59,29 persen ke Rp1.315 dengan PE 48,54 kali dan PBV 6,20 kali.

Tidak ketinggalan, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) terkoreksi 36,57 persen ke Rp6.200 per saham, namun masih memiliki PE 243,10 kali dan PBV 18,23 kali, menjadikannya salah satu saham dengan valuasi tertinggi dalam daftar tersebut.

Sementara itu, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo turun 54,46 persen ke Rp1.480 per saham. Saham ini diperdagangkan pada PE 16,02 kali dan PBV 1,05 kali.

Secara umum, data tersebut menunjukkan bahwa koreksi harga yang dalam belum otomatis membuat seluruh saham konglomerasi menjadi murah.

Sejumlah emiten memang mulai diperdagangkan pada valuasi yang lebih rasional dibanding beberapa tahun terakhir.

Namun tidak sedikit pula yang masih memiliki rasio valuasi puluhan hingga ratusan kali laba meskipun harga sahamnya telah kehilangan lebih dari separuh nilainya.

Singkatnya, kondisi ini menjadi pengingat bahwa penurunan harga saham tidak selalu identik dengan murahnya valuasi.

Pada akhirnya, yang menentukan adalah seberapa besar harga yang dibayar dibandingkan dengan fundamental dan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE