MARKET NEWS

Hashim Soroti PER Ribuan Kali, Saham LQ45 Ini Masih Punya Valuasi Single Digit

TIM RISET IDX CHANNEL 13/02/2026 14:50 WIB

Di tengah sorotan terhadap saham dengan price to earnings ratio (PER) ratusan hingga ribuan kali, sejumlah saham LQ45 justru tampil dengan valuasi yang murah.

Hashim Soroti PER Ribuan Kali, Saham LQ45 Ini Masih Punya Valuasi Single Digit. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Di tengah sorotan terhadap saham dengan price to earnings ratio (PER) ratusan hingga ribuan kali, sejumlah saham LQ45 justru tampil dengan valuasi yang jauh lebih rendah, bahkan single digit, disertai kinerja harga yang cenderung solid dalam setahun terakhir.

Berdasarkan data pasar, beberapa anggota LQ45 diperdagangkan pada PER yang relatif murah.

Saham bank pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), misalnya, memiliki PER TTM (rasio harga saham terhadap laba bersih 12 bulan terakhir) 5,49 kali dengan harga Rp1.370 per unit dan mencatat kenaikan 45,74 persen dalam setahun.

Selanjutnya, raksasa batu bara PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berada di PER 5,76 kali di harga Rp8.700, naik 9,43 persen.

Valuasi rendah juga terlihat pada emiten properti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan PER 6,23 kali meski harga terkoreksi 4,60 persen ke Rp830.

Kemudian, emiten pulp dan kertas Sinar Mas PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) mencatat PER 6,38 kali di Rp9.925 dan melonjak 61,38 persen dalam setahun, menjadi salah satu kombinasi valuasi murah dan return tinggi.

Saham batu bara seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diperdagangkan pada PER 6,68 kali di Rp22.250, meski turun 12,49 persen dalam setahun. PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki PER 7,03 kali di Rp29.050 dengan kenaikan 18,57 persen.

Di sektor konsumer dan teknologi, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) berada di PER 7,58 kali (Rp6.700, turun 14,10 persen), sementara PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) di PER 7,65 kali (Rp930, naik 51,22 persen).

Emiten otomotif PT Astra International Tbk (ASII) memiliki PER 8,24 kali di Rp6.650 dan menguat 42,70 persen.

Perbankan besar juga masih di kisaran single digit hingga belasan rendah. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berada di PER 8,37 kali (Rp4.500, naik 5,88 persen), sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat di PER 8,33 kali di harga Rp5.025.

Secara konsep, PER atau price to earnings ratio menunjukkan berapa kali investor membayar harga saham terhadap setiap satu rupiah laba bersih per saham (EPS).

Dengan PER 5-8 kali, investor secara sederhana membayar Rp5-Rp8 untuk setiap Rp1 laba, level yang secara historis tergolong murah untuk saham berkapitalisasi besar dan likuid seperti anggota LQ45.

Hashim Soroti Valuasi Ekstrem

Kontras dengan itu, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, dalam forum China Conference Southeast Asia 2026, pada Selasa (10/2/2026), menyinggung adanya saham dengan PER 167 kali, 300 kali, 1.200 kali bahkan 4.000 kali.

Ia juga menyoroti fenomena saham yang naik tidak wajar dan kerap disebut “saham gorengan”.

Data pasar memang menunjukkan sejumlah emiten mencatat PER ekstrem. PT Tira Austenite Tbk (TIRA) memiliki PER 29.203,74 kali di harga Rp1.130. PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) mencatat PER 6.439,53 kali, sementara PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS) mencapai 3.431,33 kali. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE