MARKET NEWS

IHSG Balik Arah, Momentum Kenaikan Dinilai Mulai Terbentuk

TIM RISET IDX CHANNEL 16/04/2026 06:55 WIB

Setelah sempat tertekan dalam sepanjang tahun berjalan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai mulai menunjukkan tanda pembalikan arah.

IHSG Balik Arah, Momentum Kenaikan Dinilai Mulai Terbentuk. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Setelah sempat tertekan dalam sepanjang tahun berjalan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai mulai menunjukkan tanda pembalikan arah.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas, Arief Putra, dalam riset yang terbit pada 15 April 2026, menjelaskan IHSG telah melewati fase terburuknya dan mulai memasuki tahap pemulihan yang lebih solid.

Arief mencatat, IHSG sempat turun tajam sekitar 24 persen dari puncaknya tahun ini. Namun, indeks telah pulih sekitar 7 persen dari level terendah tersebut, menandakan potensi terbentuknya tren rebound yang lebih berkelanjutan.

Arief melihat katalis utama penguatan pasar berasal dari meredanya kekhawatiran penurunan status Indonesia oleh MSCI ke frontier market serta mulai mencairnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Di sisi lain, isu defisit anggaran pemerintah memang masih menjadi perhatian, tetapi dinilai akan terkelola secara bertahap.

Arief juga menyoroti peran saham-saham teknologi global, khususnya kelompok “Magnificent Seven” di Wall Street Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya terkoreksi cukup dalam di kisaran 15 persen hingga 25 persen.

Pemulihan saham-saham ini diyakini dapat mengangkat kembali kepercayaan investor ritel di pasar global maupun domestik.

Arief menilai langkah regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memperketat pengawasan cukup efektif meredakan risiko penurunan status oleh MSCI.

Kebijakan tersebut mencakup pengelompokan investor ke dalam 39 kategori serta penegakan disiplin terhadap pelanggaran berulang di pasar modal.

Arief juga menilai respons pemerintah dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) turut menopang fundamental ekonomi dan kinerja korporasi, tanpa menimbulkan kelangkaan di pasar.

Dalam konteks global, Arief melihat potensi pemulihan saham-saham teknologi besar dunia seiring tetap kuatnya permintaan terhadap kecerdasan buatan (AI).

Kekhawatiran terkait belanja modal berlebih oleh perusahaan teknologi besar mulai mereda, sementara potensi penawaran saham perdana(IPO) sejumlah perusahaan teknologi pada paruh kedua 2026, mulai dari SpaceX, OpenAI hingga Anthropic, dapat memicu revaluasi sektor tersebut.

Meski demikian, Arief mengingatkan investor terhadap bias stagflasi, yakni kecenderungan pasar mengasumsikan ekonomi melemah di tengah inflasi tinggi.

Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk fokus pada emiten dengan daya tawar harga kuat, menjaga kualitas neraca, serta memanfaatkan volatilitas pasar sebagai peluang.

Arief merekomendasikan sejumlah saham unggulan seperti PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Kemudian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA).

Secara sektoral, Arief memandang sektor telekomunikasi berpotensi menjadi pemimpin penguatan seiring konsolidasi industri dan disiplin harga yang semakin baik.

Trafik data seluler diproyeksikan meningkat hingga empat kali lipat pada 2030, didorong oleh digitalisasi dan konsumsi video.

Sebaliknya, Arief menilai sektor konsumer masih menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli, kenaikan harga bahan bakar, serta pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor.

Sementara itu, sektor perbankan dinilai relatif tangguh dengan prospek netral hingga positif, didukung oleh suku bunga yang lebih tinggi serta likuiditas pemerintah yang membantu menahan biaya dana. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE