IHSG Bangkit ke Atas 8.000 Lagi, Saham Konglomerat Rebound
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada Selasa (3/2/2026), didorong rebound saham konglomerat yang membantu meredakan tekanan jual belakangan.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada Selasa (3/2/2026), didorong rebound saham konglomerat yang membantu meredakan tekanan jual belakangan, di tengah bayang-bayang peringatan MSCI terkait risiko investabilitas dan transparansi pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.38 WIB, IHSG naik 1,25 persen ke level 8.021,82, usai sempat terkoreksi di awal sesi.
Nilai transaksi perdagangan tercatat mencapai Rp13,28 triliun, dengan volume perdagangan 26,36 miliar saham.
Sebanyak 548 saham menguat, 199 saham melemah, dan 211 sisanya stagnan.
Saham-saham konglomerat berkapitalisasi besar menjadi motor penggerak indeks pada perdagangan pagi ini.
Kenaikan salah satunya dipimpin emiten data center PT DCI Indonesia Tbk (DCII) milik Toto Sugiri dan Anthoni Salim yang melesat 12,36 persen ke Rp221.350 per unit.
Dari kelompok Barito besutan Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turut melonjak 11,44 persen ke Rp1.695 per unit, disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menguat 6,52 persen dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 4,50 persen.
Penguatan juga datang dari konsorsium Aguan-Salim melalui PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang melesat 11,36 persen.
Sementara itu, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) milik Merdeka Group menguat 7,63 persen. Dari sektor otomotif dan konglomerasi, PT Astra International Tbk (ASII) turut menopang indeks dengan kenaikan 5,18 persen.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, pada perdagangan Selasa (3/2), secara teknikal IHSG diperkirakan bergerak terbatas dengan area support di 7.858 dan resistance di 8.089, di tengah kewaspadaan terhadap potensi lanjutan tekanan jual.
Pasar juga cenderung bersikap wait and see sambil menunggu kejelasan hasil komunikasi antara regulator dan MSCI terkait transparansi pasar, serta arah kebijakan awal dari kepemimpinan baru otoritas terkait.
Pertemuan OJK dan MSCI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bertemu dengan perwakilan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pertemuan tersebut membahas soal arah perbaikan pasar modal Indonesia.
Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menjelaskan, pertemuan yang juga dihadiri oleh perwakilan Danantara tersebut membahas sejumlah isu yang menjadi perhatian MSCI.
Dia mengungkapkan ada dua isu utama yang menjadi perhatian MSCI yang dibahas bersama dalam pertemuan yakni pengungkapan identitas penerima manfaat akhir (Ultimate Beneficial Ownership/UBO) atas saham dan peningkatan porsi saham publik (free float).
"Untuk reminders (pengingat) saja, apa yang menjadi concern (perhatian) MSCI itu sangat aligned atau selaras dengan beberapa rencana aksi kami, khususnya dalam klaster transparansi yang terkait pengungkapan Ultimate Beneficial Ownership dan terkait likuiditas untuk mendorong peningkatan free float sebagai kebijakan baru," katanya dalam jumpa pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026) sore.
Terkait dua isu tersebut, kata Hasan, pihaknya mengajukan proposal solusi.
Perihal UBO, data kepemilikan pemegang saham akan dibuka secara transparan. SRO berkomitmen membuka data kepemilikan saham di atas 1 persen dan membuat klasifikasi subtipe investor secara
"Kita akan menghadirkan, lebih merinci klasifikasi investor pada data yang selama ini dilakukan pengelolaannya di KSEI, yang saat ini terbatas pada 9 tipe investor utama, nanti dirinci menjadi 27 subtipe investor yang lebih memunculkan klasifikasi dan kredibilitas pengungkapan Ultimate Beneficial Ownership dari kepemilikan saham tersebut," katanya.
Kemudian, kata Hasan, pihaknya juga menyampaikan proposal terkait rencana kenaikan batas minimum free float dari saat ini 7,5 persen menjadi 15 persen.
Dia mengatakan, kenaikan batas free float akan dilakukan secara bertahap dengan tetap berkomunikasi dengan emiten.
Secara umum, menurutnya, diskusi dengan tim analis MSCI berjalan dengan baik dan akan dilanjutkan dengan pembahasan lebih mendalam di tingkat teknis.
Selain itu, tim MSCI juga menawarkan diri untuk memberikan petunjuk (guidance) terkait metodologi dan perhitungan free float. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.