MARKET NEWS

IHSG Berpotensi Naik 18 Persen Menuju Fase Normalisasi

Iqbal Dwi Purnama 16/06/2026 10:32 WIB

Secara teknikal IHSG masih memiliki potensi kenaikan sekitar 18,2 persen untuk mencapai target fase normalisasi.

IHSG Berpotensi Naik 18 Persen Menuju Fase Normalisasi (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Setelah mengalami koreksi tajam hingga lebih dari 41 persen dari level puncaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpeluang memasuki fase pemulihan

Riset Henan Putihrai Sekuritas menyebutkan, secara teknikal IHSG masih memiliki potensi kenaikan sekitar 18,2 persen untuk mencapai target fase normalisasi.

Dalam kajiannya yang dirilis 15 Juni 2026, Henan menyebut koreksi yang terjadi sepanjang tahun ini telah membawa IHSG turun 41,72 persen dari puncak 9.134,70 pada Januari 2026 hingga menyentuh level terendah 5.324,14 pada 8 Juni lalu. Penurunan tersebut menjadikan koreksi saat ini sebagai yang terdalam ketiga dalam sejarah pasar modal Indonesia sejak tahun 2000.

Namun, setelah mencapai titik terendah tersebut, IHSG langsung memantul 10,9 persen dalam dua hari perdagangan dan ditutup di level 5.902,38. Menurut Henan, kondisi tersebut mengindikasikan fase penurunan atau descend telah berakhir.

"Faktor ini membuat katalis akhir Fase Descend pada siklus ini berbeda dari siklus sebelumnya. Ia bukan perubahan suku bunga, melainkan habisnya tekanan jual setelah net foreign sell mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah," tulis Henan dalam risetnya, Kamis (16/6/2026).

Berdasarkan analisis historis terhadap tujuh siklus koreksi besar yang pernah dialami pasar saham Indonesia, setelah fase penurunan berakhir, pasar biasanya memasuki fase normalization atau normalisasi. Pada tahap ini, indeks bergerak menuju titik tengah antara level terendah dan puncak sebelumnya.

Henan menghitung target teknikal fase normalisasi IHSG berada di level 7.229,42. Dari posisi pembukaan IHSG pada 15 Juni 2026 di level 6.118,72, indeks masih membutuhkan kenaikan sekitar 18,2 persen untuk mencapai target tersebut.

Meski demikian, perusahaan sekuritas itu menilai perjalanan menuju fase normalisasi masih akan dipengaruhi sejumlah faktor penting. Salah satu yang paling menentukan adalah keputusan MSCI terkait status Indonesia di indeks pasar negara berkembang (Emerging Market) yang dijadwalkan diumumkan pada 18 Juni 2026.

Selain keputusan MSCI, stabilisasi nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia juga menjadi indikator yang perlu diperhatikan investor. Menurut Henan, ketiga faktor tersebut akan menjadi sinyal utama yang menentukan keberlanjutan pemulihan pasar saham nasional.

Henan memperkirakan fase normalisasi dapat berlangsung antara 3,9 hingga 7 bulan apabila mengacu pada pola koreksi yang dipicu faktor struktural dan domestik pada siklus-siklus sebelumnya.

Meski peluang pemulihan mulai terbuka, Henan mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan profil risiko dan horizon investasi masing-masing. Ketidakpastian pasar masih cukup tinggi, terutama menjelang keputusan MSCI yang dinilai akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.

Riset tersebut juga mencatat bahwa sepanjang sejarah pasar modal Indonesia, tujuh siklus koreksi besar yang telah selesai pada akhirnya selalu diikuti pemulihan hingga IHSG kembali menembus level puncak sebelumnya dan mencetak rekor baru.

Siklus pertama terjadi pada 2002 ketika pasar terdampak kombinasi pecahnya gelembung saham teknologi (dot-com bubble) dan peristiwa Bom Bali. Pada periode tersebut, IHSG mengalami penurunan hingga 38,8 persen dengan fase penurunan berlangsung sekitar 5,9 bulan.

Siklus kedua terjadi saat Krisis Keuangan Global atau Global Financial Crisis (GFC) 2008 yang dipicu runtuhnya Lehman Brothers. Periode ini menjadi koreksi terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia, dengan IHSG anjlok 60,7 persen dalam waktu sekitar 9,6 bulan. 

Selanjutnya, pada 2011 pasar menghadapi dampak Krisis Utang Eropa dan gejolak pasar global yang dikenal sebagai Black Monday. Koreksi pada periode ini relatif lebih ringan, dengan penurunan 22 persen dan berlangsung sekitar 2,1 bulan.

Pada 2013, pasar kembali terguncang akibat Taper Tantrum, yakni ketika bank sentral Amerika Serikat memberi sinyal pengurangan stimulus moneter. Peristiwa tersebut mendorong IHSG terkoreksi 23,9 persen selama 3,3 bulan.

Kemudian pada 2015, devaluasi yuan oleh China memicu gejolak di pasar keuangan global dan menyeret IHSG turun 25,4 persen dengan fase penurunan selama 5,7 bulan.

Siklus keenam terjadi pada 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Kepanikan pasar menyebabkan IHSG merosot 37,7 persen hanya dalam waktu 2,3 bulan, menjadikannya salah satu koreksi tercepat dalam sejarah.

Adapun siklus ketujuh berlangsung pada 2025 akibat kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memicu ketidakpastian global. Pada periode ini IHSG mengalami koreksi 24,5 persen selama sekitar 6,6 bulan.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE