MARKET NEWS

IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidasi pada Pekan Ini

Anggie Ariesta 26/01/2026 10:34 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak konsolidatif dalam rentang support 8.950 dan resistance 9.080 pada pekan perdagangan 26-30 Januari 2026.

IHSG Diprediksi Bergerak Konsolidasi pada Pekan Ini (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak konsolidatif dalam rentang support 8.950 dan resistance 9.080 pada pekan perdagangan 26-30 Januari 2026. 

Prediksi ini muncul setelah IHSG mengalami koreksi sebesar 1,37 persen pada pekan sebelumnya, ditutup di level 8.951,01.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah mengatakan bahwa meskipun aturan perhitungan free float baru dari MSCI belum resmi berlaku, pasar telah bereaksi lebih awal dengan mengantisipasi skenario terburuk. Hal ini memicu normalisasi harga pada saham-saham yang sebelumnya memiliki valuasi premium.

"Dalam kondisi tersebut investor dan trader dapat mencermati peluang pada saham-saham defensif maupun saham yang masih berada dalam tren naik (uptrend), khususnya yang didukung oleh volume transaksi yang solid serta aliran dana asing. Meski demikian, manajemen risiko tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan di tengah potensi volatilitas pasar,” kata Hari dalam analisisnya, Senin (26/1/2026).

Menurut Hari, pelemahan indeks pada periode 19–23 Januari dipicu oleh kombinasi tensi geopolitik AS-Eropa serta tekanan pada saham-saham blue chip.

Secara khusus, saham ASII dan UNTR mengalami koreksi tajam, di mana UNTR terdampak pencabutan izin tambang emas anak usahanya. Selain itu, spekulasi formula baru MSCI memicu aksi jual pada saham-saham seperti BUMI dan PTRO.

Untuk pekan ini, Hari memperkirakan bursa Wall Street akan bergerak terbatas karena investor bersikap wait and see terhadap sejumlah rilis data penting dari Amerika Serikat.

"Dari Amerika Serikat, pasar juga akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting, seperti Non-Farm Payrolls (NFP), neraca perdagangan serta data jobless claims, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dan membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter selanjutnya," ujar Hari.

Dari sisi internal, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menahan tekanan eksternal. Pemerintah fokus pada stabilitas nilai tukar Rupiah melalui pengendalian defisit dan optimalisasi penerimaan negara.

"Langkah tersebut tercermin dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berkelanjutan, mulai dari pengendalian defisit anggaran, optimalisasi penerimaan negara, hingga pengelolaan belanja yang lebih terarah," katanya.

Hari menambahkan bahwa Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) guna menjaga daya tarik aset domestik di mata investor asing.

"Kombinasi kebijakan ini diharapkan dapat menahan tekanan eksternal, menjaga kepercayaan investor, serta menopang stabilitas pasar keuangan domestik ke depan,” kata dia.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE