IHSG Turun 4 Persen Pagi Ini, Tekanan Jual Saham Konglo Masih Berlanjut
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada Senin (2/2/2026) seiring berlanjutnya aksi jual pada saham-saham konglomerat raksasa.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada Senin (2/2/2026) seiring berlanjutnya aksi jual pada saham-saham konglomerat raksasa.
Tekanan pasar meningkat karena investor mewaspadai sentimen negatif usai peringatan MSCI pekan lalu terkait isu investability atau kelayakan investasi pasar saham Indonesia serta transparansi struktur kepemilikan, meskipun otoritas tengah berupaya merespons dan mengatasi persoalan tersebut.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.26 WIB, IHSG terkoreksi signifikan 4,47 persen ke 7.957,30. Nilai transaksi tercatat Rp8,79 triliun, dengan volume perdagangan 14.93 miliar saham.
Hanya 64 saham yang menguat, dengan 632 saham melemah, dan 262 sisanya stagnan.
Sejumlah emiten milik kelompok usaha raksasa tercatat memimpin daftar penurunan saham big cap dan turut menjadi pemberat utama indeks.
Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) milik Grup Bakrie-Salim memimpin pelemahan dengan penurunan hingga 13,89 persen ke Rp930 per unit. Tekanan serupa juga dialami saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang terafiliasi Grup Sinarmas, yang ambles 13,51 persen menjadi Rp85.550 per unit.
Dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, tekanan terlihat merata. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 12,73 persen, disusul PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang melemah 11,91 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang terkoreksi 10,00 persen, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun 7,04 persen.
Sementara itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik Grup Salim tercatat anjlok 11,18 persen. Tekanan juga datang dari saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang terafiliasi kelompok Aguan-Salim, yang melemah 9,41 persen.
Sebelumnya, IHSG tercatat sempat turun tajam 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit.
Tekanan pasar muncul setelah pengelola indeks global MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan isu kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.
Dalam penilaiannya, MSCI menyinggung adanya masalah fundamental dari sisi investabilitas atau kelayakan investasi, dengan free float menjadi sorotan utama.
Rendahnya porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan dinilai membatasi likuiditas hingga meningkatkan volatilitas.
Merespons sorotan MSCI tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penyampaian data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci sesuai praktik internasional hingga rencana penerbitan aturan free float minimum 15 persen bagi emiten baru maupun yang telah tercatat.
Selain pengunduran diri Iman, kisruh terkait MSCI juga diikuti mundurnya tiga petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner Mirza Adityaswara, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi.
Sementara itu, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner.
Selain Friderica, OJK juga menetapkan Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto, sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
Penunjukan tersebut ditetapkan dalam Rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar di Jakarta, Sabtu (31/1/2026), dan berlaku efektif pada tanggal yang sama.
Bursa Asia Lesu
Sementara, bursa saham Asia mayoritas bergerak searah dengan pelemahan kontrak berjangka(futures) Wall Street pada Senin (2/2/2026), di tengah gejolak perdagangan perak yang memicu sentimen waspada di awal pekan yang padat agenda, mulai dari rilis kinerja emiten, pertemuan bank sentral, hingga data ekonomi utama.
Harga perak sempat kembali anjlok hingga 5 persen, setelah pada Jumat lalu terpuruk sekitar 30 persen.
Menurut Reuters, lejatuhan tajam tersebut memaksa penutupan posisi-posisi berleverage dalam transaksi yang sebelumnya sudah terlalu ramai.
Pelaku pasar juga menyoroti penghentian sementara perdagangan UBS SDIC silver futures fund di China sebagai salah satu pemicu tekanan lanjutan.
Harga minyak ikut melemah hampir 3 persen setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa Iran secara serius tengah berbicara dengan Washington.
Pernyataan itu dinilai berpotensi meredakan risiko serangan militer AS terhadap negara tersebut.
Sentimen negatif ini menekan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang yang turun 0,7 persen. Bursa Korea Selatan melemah lebih dalam dengan indeks Kospi terkoreksi tajam 2,51 persen.
Sementara, Shanghai Composite berkurang 0,55 persen, Hang Seng Hong Kong merosot 1,45 persen. (Aldo Fernando)