MARKET NEWS

IHSG Turun 8,00 Persen, Kena Trading Halt Lagi

TIM RISET IDX CHANNEL 29/01/2026 09:34 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam pada Kamis (29/1/2026) hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).

IHSG Turun 8,00 Persen, Kena Trading Halt Lagi. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan tajam pada Kamis (29/1/2026) hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Tekanan jual menguat seiring investor mengambil sikap risk-off setelah pengumuman MSCI dan penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi tajam 8,00 persen ke 7.654,66 pada 09.26 WIB dan akan kembali dibuka 30 menit kemudian.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,78 triliun.

Sebanyak 694 saham turun, hanya 34 yang menguat, dan 230 sisanya stagnan.

Sehari sebelumnya, IHSG juga sempat terkena trading halt 30 menit sebelum ditutup turun 7,35 persen.

Informasi saja, BEI memiliki mekanisme penghentian sementara perdagangan apabila IHSG mengalami penurunan tajam dalam satu hari bursa.

BEI akan memberlakukan trading halt selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 8 persen. Jika tekanan berlanjut dan IHSG kembali melemah hingga lebih dari 15 persen, perdagangan kembali dihentikan sementara selama 30 menit.

Sementara itu, apabila penurunan IHSG berlanjut hingga lebih dari 20 persen, BEI akan melakukan trading suspend. Dalam kondisi ini, penghentian perdagangan dapat berlaku hingga akhir sesi perdagangan hari tersebut.

Trading suspend juga dapat diperpanjang hingga lebih dari satu sesi perdagangan, namun dengan catatan harus mendapatkan persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Diwartakan sebelumnya, analis Goldman Sachs Group Inc memangkas peringkat saham Indonesia menjadi underweight.

Langkah ini diambil seiring peringatan bahwa kekhawatiran MSCI terkait aspek investabilitas berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari USD13 miliar (Rp217 triliun) jika pasar Indonesia diturunkan statusnya menjadi pasar frontier.

Melansir dari Bloomberg, bank investasi Wall Street itu memperkirakan, dalam skenario ekstrem ketika Indonesia direklasifikasi dari pasar berkembang (emerging market/EM), dana pasif (passive fund) yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan melepas aset hingga USD7,8 miliar (Rp130 triliun)

Selain itu, arus keluar tambahan sebesar USD5,6 miliar juga bisa terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia.

“Kami memperkirakan penjualan pasif masih berlanjut dan menilai perkembangan ini menjadi beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis para analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya.

Dalam catatan terpisah, Goldman Sachs menambahkan bahwa manajer dana aktif (active fund manager) regional saat ini berada pada posisi overweight di pasar Indonesia.

Karena itu, potensi penurunan status pasar, yang dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar dan kemungkinan berkurangnya likuiditas, diperkirakan mendorong investor long-only untuk menyeimbangkan ulang portofolionya. Situasi ini juga berpotensi memicu arus spekulatif dari hedge fund.

IHSG turun tajam pada Rabu setelah MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator menuntaskan isu kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada perusahaan tercatat. MSCI menyoroti adanya “masalah fundamental dari sisi investabilitas”.

Inti persoalan tersebut adalah kekhawatiran terhadap rendahnya free float, yakni jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar, yang belakangan menjadi sorotan utama dalam penilaian terhadap saham-saham Indonesia. (Aldo Fernando)

SHARE