MARKET NEWS

IHSG Turun Lebih 1 Persen saat Pasar Menanti RDG BI, UNTR-ASII Cs Jadi Beban

TIM RISET IDX CHANNEL 21/01/2026 12:49 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan hingga akhir sesi I, Rabu (21/1/2026), terseret melemahnya sejumlah emiten raksasa.

IHSG Turun Lebih 1 Persen saat Pasar Menanti RDG BI, UNTR-ASII Cs Jadi Beban. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan hingga akhir sesi I, Rabu (21/1/2026), terseret melemahnya sejumlah emiten raksasa seiring pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) siang ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi 1,24 persen ke level 9.021,49.

Sebanyak 601 saham melemah, hanya 152 menguat, dan 205 sisanya stagnan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp20,78 triliun, dengan volume perdagangan 35,92 miliar saham.

Penurunan tajam ini terjadi usai indeks acuan tersebut sempat menembus level tertinggi sepanjang masa (ATH) di 9.174,47 pada intraday Selasa (20/1/2026).

Saham Grup Astra, PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR), yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) Rp100-Rp260 triliun, menjadi salah satu pemberat utama indeks hingga siang ini.

Saham ASII anjlok 11,34 persen ke Rp6.450 per unit, sedangkan UNTR menyentuh auto rejection bawah (ARB), merosot 14,93 persen ke posisi Rp27.200 per unit.

Jatuhnya saham ASII dan UNTR menyusul keputusan pemerintah mencabut izin tambang emas dan perak Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR).

Informasi saja, Agincourt merupakan unit usaha yang mengoperasikan Tambang Emas Martabe di Sumatera Utara dan selama ini menjadi pilar diversifikasi UNTR di luar batu bara, selain bisnis nikel.

Perusahaan ini memiliki 95 persen saham di PTAR dan 80 persen di PT Sumbawa Jutaraya (SJR).

Tambang Martabe beroperasi berdasarkan Kontrak Karya 30 tahun dengan pemerintah Indonesia, dengan produksi emas dan perak dimulai sejak 2012 dan cadangan bijih yang diproyeksikan menopang operasi sekitar 12-13 tahun lagi.

Sebelumnya operasional tambang sempat dihentikan sementara sejak awal Desember 2025 oleh instansi terkait untuk audit lingkungan atas dugaan keterkaitan kegiatan pertambangan dengan bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera.

Tidak hanya ASII-UNTR yang membebani indeks.

Saham properti milik taipan Hermanto Tanoko, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE), yang ambles 12,30 persen ikut menjadi laggard bersama raksasa tambang Grup Bakrie dan Grup Salim PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang turun 4,93 persen.

Demikian pula, saham properti milik Aguan dan Grup Salim PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turut menekan IHSG, turun 4,37 persen ke Rp12.025 per unit.

Kemudian, trio saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu juga menjadi beban. Sebut saja, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) turun 3,14 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 2,63 persen, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) 2,57 persen.

Tidak ketinggalan, bank swasta milik Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melorot 1,88 persen ke Rp7.850 per unit, menambah daftar saham laggard penekan indeks siang ini.

“Penurunan [IHSG] ini penting dicermati karena terjadi setelah IHSG sempat mencatat rekor tertinggi baru kemarin (terkait mencapai level 9.000),” tulis BRI Danareksa, Rabu (21/1).

Lebih lanjut, BRI Danareksa menilai pelemahan pasar tidak berdiri sendiri dan dipicu oleh beragam faktor.

“Jatuhnya IHSG bukan fenomena tunggal—ini seringkali merupakan akumulasi dari sejumlah sentimen global dan domestik. Yang mendorong investor melakukan rebalancing portofolio, profit taking, atau menarik modal keluar dari pasar saham Indonesia,” demikian penjelasan BRI Danareksa.

Sementara, bursa Asia bergerak beragam, dengan Shanghai Composite dan KOSPI Korea Selatan menguat masing-masing 0,23 persen dan 0,12 persen, sedangkan Nikkei Jepang turun 0,38 persen, serta ASX 200 Australia (-0,37 persen), STI Singapura (0,41 persen) tertekan.

Aksi jual di Wall Street semalam setelah retorika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kian agresif terkait Greenland turut menekan sentimen risiko global.

Pelaku pasar dalam negeri tengah menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI sekitar pukul 14.30 WIB siang ini.

BI diperkirakan kembali menahan suku bunga acuan pada Rabu, guna membatasi pelemahan lebih lanjut nilai tukar rupiah, sembari tetap mendorong perbankan untuk menyalurkan manfaat pemangkasan suku bunga sebelumnya kepada debitur.

Hal tersebut tercermin dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

BI telah menghentikan siklus pelonggaran kebijakan sejak Oktober, seiring pergeseran fokus dari upaya menopang pertumbuhan ekonomi ke langkah menstabilkan rupiah.

Sepanjang tahun lalu, rupiah tercatat melemah sekitar 3,5 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia dan mendorong BI melakukan sejumlah intervensi di pasar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE