IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Simak Saham Pemberat dan Penyebabnya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Jumat (11/9/2026).
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Jumat (11/9/2026), dengan saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks di tengah tekanan bursa global dan regional Asia.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.22 WIB, IHSG turun tajam 1,76 persen ke level 6.476. Nilai transaksi mencapai Rp3,97 triliun dengan volume perdagangan 8,51 miliar saham.
Sebanyak 582 saham turun, 75 saham naik, dan 306 saham stagnan.
Salah satu saham yang menjadi pemberat utama IHSG adalah PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yang anjlok 6,87 persen.
Tekanan juga datang dari sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar yang turut menjadi laggard indeks.
Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor berada di zona merah. IDX Basic memimpin pelemahan dengan turun 2,48 persen, diikuti IDX Cyclical yang merosot 2,39 persen dan IDX Energy yang terkoreksi 2 persen.
Harga Minyak Tembus USD100
Menurut MNC Sekuritas, Jumat (11/9), tekanan terhadap pasar saham berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong harga minyak mentah menembus ke atas USD100 per barel.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan fiskal sekaligus memperbesar kekhawatiran inflasi global. Di pasar valuta, rupiah juga melemah hingga Rp17.600 per USD.
Tekanan eksternal semakin kuat setelah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) Agustus menunjukkan kenaikan 0,4 persen secara bulanan (month-on-month/MoM), sesuai konsensus.
Kenaikan terutama berasal dari komponen energi yang melonjak 4,2 persen secara bulanan. Investor kini mengalihkan perhatian ke data inflasi AS yang dirilis pada malam hari waktu setempat.
Meski inflasi inti melunak, probabilitas kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) meningkat menjadi 72 persen.
Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa inflasi headline masih tinggi, sementara pasar tenaga kerja AS belum cukup melemah.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga naik ke 4,95 persen, memperkuat kekhawatiran terhadap prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.
Kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan meningkatnya ekspektasi suku bunga AS tersebut kemudian menekan aset berisiko, termasuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas menyebut IHSG masih berada dalam fase downtrend dan telah mencapai target koreksi di level 6.502.
"Cermati area koreksi berikutnya di 6.448," tulis MNC Sekuritas. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.