IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah pada perdagangan hari ini Jumat (11/9/2026).
Pergerakan mata uang Garuda dibayangi oleh eskalasi militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz, menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, serta kekhawatiran terhadap beban fiskal impor energi domestik.
Tekanan eksternal yang kian intensif membuat mata uang domestik sulit keluar dari zona merah meski sempat mendapat sokongan dari sentimen konsumen di dalam negeri. Pelaku pasar valuta asing kini memilih bersikap defensif sembari mencermati dinamika pasokan energi dan arah kebijakan moneter global.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun diprediksi ditutup melemah di rentang Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (11/9).
Memburuknya sentimen global dipicu oleh konfrontasi bersenjata antara AS dan Iran yang mencatatkan rangkaian serangan terparah terhadap armada perkapalan sejak konflik bermula pada Februari lalu. Eskalasi ini kembali memanas setelah sempat mereda sejenak pada Agustus. Militer Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar kawasan strategis Selat Hormuz pada Rabu, sementara AS membalas tindakan tersebut dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.