Ibrahim memaparkan, apabila penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi tersebut, risiko pelebaran defisit anggaran melampaui target resmi kian terbuka lebar.
Kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor minyak yang mahal juga berpotensi langsung menekan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, jika pemerintah terpaksa mengambil opsi penyesuaian harga BBM di tingkat domestik guna menekan beban kas negara, langkah tersebut berisiko memicublonjakan inflasi dan memukul daya beli masyarakat.
Untuk meredam gejolak tersebut, pemerintah sejauh ini mengandalkan bantalan fiskal yang bersumber dari penerimaan ekspor komoditas non-migas. Akan tetapi, tingginya ketidakpastian pasar internasional menuntut kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadibprioritas utama pemangku kebijakan.
Di tengah kepungan sentimen negatif tersebut, pelemahan rupiah sedikit tertahanboleh rilis data kepercayaan masyarakat di tingkat domestik yang menunjukkanbsinyal ekspansi. Kendati demikian, pola penopang aktivitas belanja masyarakat dinilai masih menyisakan kerentanan struktural terhadap ketahanan ekonomi riil.