Kondisi geopolitik tersebut diperberat oleh sikap para pedagang yang kini bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS serta data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat. Rangkaian laporan inflasi tersebut dinantikan untuk memberi petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed pada pertemuan pekan depan guna meredam tekanan harga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini telah mengalkulasi adanya peluang sekitar 60 persen bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga acuannya.
Membubungnya harga minyak mentah dunia akibat konflik maritim tersebut merembet menjadi ancaman langsung bagi postur anggaran pendapatan dan belanja negara.
Kebutuhan pasokan energi impor yang mahal dikhawatirkan dapat memicu lonjakan permintaan dolar AS sekaligus memperlebar defisit fiskal pemerintah.
"Meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian karena secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, baik BBM maupun LPG," kata Ibrahim.