MARKET NEWS

IHSG Turun Lebih dari 2 Persen saat Rupiah Kembali Sentuh Level Terendah di Rp17.728 per USD

TIM RISET IDX CHANNEL 19/05/2026 11:25 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun tajam pada Selasa (19/5/2026) seiring nilai tukar rupiah kembali menyentuh level terendah sepanjang masa.

IHSG Turun Lebih dari 2 Persen saat Rupiah Kembali Sentuh Level Terendah di Rp17.728 per USD. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun tajam pada Selasa (19/5/2026) seiring nilai tukar rupiah kembali menyentuh level terendah sepanjang masa menjadi Rp17.728 per USD hingga siang ini.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 11.18 WIB, IHSG tergelincir 2,15 persen ke level 6.457,03, membukukan penurunan selama 6 sesi berturut-turut.

Nilai transaksi mencapai Rp11,14 triliun, dengan volume 17,95 miliar saham.

Sebanyak 483 saham melemah, 193 menguat, dan 283 sisanya stagnan.

Sehari sebelumnya, IHSG ditutup terkoreksi 1,85 persen setelah sempat tergelincir 4,38 persen selama intraday di tengah dampak rebalancing indeks global MSCI dan pengumuman FTSE Russell serta pelemahan rupiah.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan, pada Selasa (19/5/2026), tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.

Menurut Rully, pelemahan tajam tersebut dipicu efek rambatan dari aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global.

Meski demikian, investor asing tercatat masih melakukan selective buying pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, mengindikasikan selective positioning.

Menjelang pengumuman RDG BI, konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna menopang stabilitas rupiah.

Namun, Mirae Asset justru memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen dengan pendekatan hawkish hold.

Rully menilai kenaikan suku bunga memiliki efektivitas yang terbatas karena tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor musiman, seperti repatriasi dividen dan kebutuhan musim haji, yang diperkirakan mulai mereda pada Juli hingga Agustus.

Selain itu, kekhawatiran pasar terkait keberlanjutan fiskal dinilai tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengetatan moneter.

Mirae memperkirakan BI akan mengandalkan intervensi agresif di pasar valas serta pengelolaan likuiditas, sambil tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Mirae Asset menilai rupiah dan IHSG masih rentan terhadap potensi arus keluar dana asing dalam jangka pendek.

Karena itu, pelaku pasar diminta mencermati implementasi kebijakan non-suku bunga Bank Indonesia sebagai faktor utama stabilisasi pasar keuangan domestik.

Berbeda, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen dalam RDG pada Rabu (19/5), seiring tekanan terhadap rupiah yang terus berlanjut.

Menurut BRI Danareksa, pelemahan rupiah yang mencetak rekor terendah baru dipicu kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta lonjakan harga minyak dunia di atas USD100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Secara historis, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar saham karena meningkatkan biaya dana dan menekan minat investor terhadap aset berisiko.

Namun, dalam situasi saat ini, BRI Danareksa menilai langkah kenaikan suku bunga justru dapat dipersepsikan positif oleh pasar apabila mampu memperkuat stabilitas rupiah dan meredam tekanan capital outflow dari pasar keuangan domestik.

“Pergerakan saham perbankan yang masih relatif kuat hari ini menunjukkan pasar mulai mengantisipasi kebijakan hawkish sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makro,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.

Sementara, mayoritas ekonom memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (20/5/2026), di tengah tekanan berkepanjangan terhadap rupiah.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters pada periode 11-18 Mei, sebanyak 16 dari 29 ekonom memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga reverse repo tujuh hari (BI-Rate) menjadi 5 persen. (Aldo Fernando)

SHARE