MARKET NEWS

Indonesia Masuk Radar Data Center AI, Enam Faktor Jadi Penentu

TIM RISET IDX CHANNEL 14/10/2026 06:29 WIB

Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan ekspansi pusat data di Asia Tenggara seiring semakin terbatasnya ketersediaan listrik di Singapura dan Malaysia.

Indonesia Masuk Radar Data Center AI, Enam Faktor Jadi Penentu. (Foto: Getty Images)

IDXChannel - Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan ekspansi pusat data (data center/DC) di Asia Tenggara seiring semakin terbatasnya ketersediaan listrik di Singapura dan Malaysia.

Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat pengembangan ekosistem data center berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Bob Setiadi dan Elizabeth Noviana menilai Indonesia saat ini berada pada tahap perkembangan yang relatif serupa dengan Malaysia pada awal siklus ekspansi data center pada 2022.

Dalam riset yang terbit pada 12 Oktober 2026, keduanya menyebut pelaku industri di Singapura mulai mengeksplorasi ekspansi ke Jepang akibat keterbatasan pasokan listrik. Sementara itu, Johor Corporation juga mengamati adanya pelanggan data center yang mulai mempertimbangkan ekspansi ke negara Asia Tenggara lainnya demi memperoleh akses listrik.

“Dengan kondisi tersebut, perhatian investor diperkirakan semakin mengarah pada peluang AI Neocloud di Indonesia,” tulis Bob dan Elizabeth dalam riset tersebut.

Menurut CGSI, terdapat enam komponen utama yang akan menentukan pemenang dalam perebutan permintaan data center yang siap mendukung beban kerja AI, yakni chip, pelanggan, listrik, air, konstruksi data center, dan pendanaan.

Akses terhadap GPU menjadi salah satu faktor awal yang krusial bagi pengembangan AI Neocloud.

NVIDIA telah memiliki posisi kuat dalam ekosistem tersebut, sementara status NVIDIA Cloud Partner (NCP) dapat memberikan akses terhadap alokasi GPU bagi penyedia yang memenuhi persyaratan.

CGSI juga menemukan adanya minat dari hyperscaler terhadap kapasitas data center yang siap mendukung AI di Indonesia.

Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan large language model (LLM) secara global dalam dua tahun terakhir.

Dari sisi listrik, Indonesia dinilai memiliki keunggulan potensial. CGSI memperkirakan Indonesia memiliki sekitar 15 gigawatt (GW) kapasitas listrik berlebih pada 2025 yang secara teori dapat menopang sekitar 6,5 GW tambahan permintaan dari data center.

Sementara itu, Indonesia Data Centre Providers Association (IDPRO) memproyeksikan kapasitas data center terpasang di Indonesia mencapai 12 GW pada 2030, dibandingkan sekitar 650 megawatt (MW) per September 2026.

Penilaian bottom-up CGSI terhadap 10 operator data center utama di Indonesia menunjukkan kapasitas operasional mencapai 534 MW. Selain itu, terdapat 1,1 GW kapasitas yang sedang dalam pembangunan dan sekitar 3,6 GW potensi kapasitas yang dapat dikembangkan secara bertahap.

Pendanaan juga menjadi salah satu faktor penting dalam mengejar peluang tersebut.

Berdasarkan data CEIC yang dikutip CGSI, outstanding loan sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mencapai Rp46 triliun hingga Juli 2026, melonjak dibandingkan Rp7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di antara emiten telekomunikasi, CGSI menilai PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki eksposur paling kuat terhadap ekosistem AI-ready data center di Indonesia.

ISAT memiliki eksposur di sejumlah mata rantai ekosistem tersebut melalui anak usahanya, PT Aplikanusa Lintasarta, yang memiliki platform NVIDIA Cloud Partner (NCP) dan menyediakan akses GPU NVIDIA untuk layanan AI cloud.

ISAT juga memiliki saham minoritas di BDx Indonesia, salah satu operator data center besar di Indonesia, serta berinvestasi di Zankore, AI Neocloud yang menargetkan kapasitas 1 GW pada 2030.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga dinilai memiliki posisi yang kuat melalui jaringan data center NeutraDC, aset backbone fiber InfraNexia, serta jaringan kabel bawah laut Telkom Indonesia International (Telin).

TLKM juga ditopang oleh kemampuan menghasilkan arus kas bebas yang solid.

Meski demikian, CGSI menilai kontribusi AI dan investasi data center terhadap laba emiten telekomunikasi belum akan terasa dalam waktu dekat.

CGSI mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor telekomunikasi Indonesia, didukung perbaikan harga layanan, permintaan data yang relatif kuat, serta valuasi yang dinilai menarik.

Sektor tersebut saat ini diperdagangkan pada 3,7 kali EV/EBITDA forward 12 bulan, sekitar 2,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahunnya.

Risiko utama sektor ini mencakup melemahnya disiplin harga, meningkatnya biaya pembangunan jaringan 5G, serta persaingan yang semakin ketat di bisnis fixed broadband.

Sebaliknya, katalis re-rating dapat berasal dari percepatan perbaikan harga layanan seluler, monetisasi aset fixed wireless access (FWA) yang lebih kuat, serta potensi divestasi aset non-seluler.

“Investasi AI dan data center memberikan peluang pertumbuhan tambahan, tetapi kontribusi yang berarti terhadap laba masih membutuhkan waktu untuk terealisasi,” tulis CGSI. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE