Investor Asing Masih Cermati Indonesia, Soroti Bobot MSCI dan Kebijakan
Minat investor asing terhadap pasar saham Indonesia masih tertahan seiring kecilnya bobot Indonesia dalam indeks regional serta ketidakpastian kebijakan.
IDXChannel – Minat investor asing terhadap pasar saham Indonesia masih tertahan seiring kecilnya bobot Indonesia dalam indeks regional serta ketidakpastian kebijakan.
Namun, kondisi tersebut justru dinilai membuka peluang bagi investor yang melihat prospek pemulihan pasar secara bertahap.
Hal itu disampaikan analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto dan Elizabeth Noviana dalam riset yang terbit pada 18 Agustus 2026.
Dalam riset bertajuk Half the Weight, Double the Effort, CGSI menyebut investor yang ditemui dalam perjalanan marketing mereka cenderung mengabaikan Indonesia karena bobotnya yang kecil serta ketidakpastian kebijakan.
Bobot Indonesia dalam MSCI APAC ex Japan telah turun dari 1,2 persen pada Desember 2025 menjadi hanya 0,5 persen pada Agustus 2026.
Di kawasan ASEAN, Indonesia juga hanya menyumbang sekitar 8 persen dari indeks MSCI ASEAN, jauh di bawah Singapura yang mencapai 55 persen serta Thailand dan Malaysia masing-masing 16 persen.
Menurut CGSI, kondisi tersebut membuat investor membutuhkan tingkat keyakinan dan kepastian yang lebih tinggi untuk kembali masuk ke pasar Indonesia, terutama karena bobot dan likuiditas pasar yang semakin kecil.
Selain itu, investor kini cenderung memilih lebih sedikit saham untuk mendapatkan eksposur terhadap Indonesia. Sebagian besar investor yang ditemui bahkan hanya mempertimbangkan kurang dari lima saham.
“Sejumlah investor yang kami temui menyebutkan bahwa mereka dapat memilih mendapatkan eksposur terhadap Indonesia melalui investasi pada perusahaan regional yang memiliki bisnis di Indonesia, seperti Sea Ltd dan Grab,” tulis CGSI.
Kebijakan, Gubernur BI, dan MSCI Jadi Sorotan
CGSI mencatat terdapat tiga isu utama yang paling banyak ditanyakan investor, yakni arah kebijakan pemerintah, Gubernur Bank Indonesia (BI), dan status Indonesia dalam indeks MSCI.
Pembahasan mengenai kebijakan tidak hanya mencakup kebijakan fiskal dan moneter, tetapi juga sejumlah program spesifik pemerintah. Investor menyoroti implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), program koperasi desa, subsidi energi, hingga implementasi Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Investor juga mempertanyakan rekam jejak serta arah kebijakan moneter di bawah Pejabat Sementara Gubernur BI saat ini, Destry Damayanti, terutama jika nantinya ia ditetapkan secara permanen.
Sementara itu, isu MSCI menjadi perhatian besar karena investor mencermati kemungkinan Indonesia diturunkan dari status Emerging Market menjadi Frontier Market.
CGSI mengatakan investor juga mempertanyakan perkembangan terbaru serta kemungkinan pengumuman MSCI pada Oktober atau November 2026.
Dalam skenario dasar (base case), CGSI memperkirakan MSCI memperpanjang pembekuan (freeze) terhadap Indonesia sembari menunggu reformasi lebih lanjut.
Pesimisme Justru Bisa Jadi Peluang
Meski pandangan investor terhadap Indonesia masih cenderung negatif, CGSI melihat kondisi tersebut dari perspektif yang lebih positif.
Argumen mengenai pemulihan pasar yang berlangsung secara bertahap dan berfluktuasi (gradual and choppy recovery) dinilai mulai menarik perhatian sejumlah investor.
Menurut CGSI, investor memang masih berhati-hati untuk kembali masuk. Namun, mereka sepakat bahwa valuasi pasar Indonesia sudah relatif murah, terutama jika optimisme global terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai mereda.
CGSI juga melihat adanya sinyal positif dari pergerakan pasar pada Juli 2026. IHSG mampu mengalami rebound meskipun arus dana asing bersih (net equity foreign inflows) ke pasar saham masih relatif terbatas.
Selain saham-saham yang selama ini menjadi pilihan utama, seperti empat bank besar, PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS), sejumlah investor juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
"Half the weight requires double the effort," demikian mengutip CGSI, menggambarkan, bobot Indonesia yang semakin kecil membuat investor membutuhkan alasan yang lebih kuat untuk meningkatkan eksposur terhadap pasar domestik.
Saham Pilihan dan Footsie
Untuk menghadapi ketidakpastian kebijakan sektoral, CGSI memilih portofolio yang lebih terdiversifikasi. Strategi tersebut dinilai dapat mengurangi risiko apabila muncul kebijakan yang tidak terduga pada sektor tertentu.
Saham pilihan utama CGSI adalah BBCA, BBNI, ASII, AADI, UNVR, EXCL, TINS, JPFA, MAPA, BFIN, dan WIIM.
Untuk jangka pendek, perhatian pasar tertuju pada keputusan FTSE Russell atau secara informal kerap disebut Footsie.
Dalam pembaruan 18 Agustus 2026, FTSE Russell memutuskan untuk tetap menunda sejumlah perubahan indeks utama terhadap saham Indonesia hingga setidaknya tinjauan Desember 2026.
FTSE tetap mengimplementasikan sejumlah penyesuaian rutin pada September 2026 Index Review, tetapi menunda perubahan segmen kapitalisasi, kenaikan free float, penambahan saham baru, serta perubahan Weight Adjustment Factor (WAF) dari nol menjadi positif.
Keputusan tersebut mencerminkan langkah FTSE untuk memberikan waktu lebih panjang dalam mengamati efektivitas reformasi pasar Indonesia.
FTSE menyatakan akan terus memantau perkembangan dan mempertimbangkan keputusan lebih lanjut menjelang tinjauan Desember 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.