MARKET NEWS

Investor Regional Masih Underweight di Saham Bank, Soroti NIM hingga Kualitas Kredit

TIM RISET IDX CHANNEL 03/09/2026 06:34 WIB

Investor regional di Singapura dan Malaysia masih mengambil posisi underweight terhadap sektor perbankan Indonesia, termasuk empat bank besar.

Investor Regional Masih Underweight di Saham Bank, Soroti NIM hingga Kualitas Kredit. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Investor regional di Singapura dan Malaysia masih mengambil posisi underweight terhadap sektor perbankan Indonesia, termasuk empat bank besar.

Kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah, kondisi politik, hingga ketidakpastian status pasar Indonesia dalam indeks MSCI membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Handy Noverdanius dan Owen Tjandra dalam riset yang terbit 27 Agustus 2026 mengatakan, investor regional yang mereka temui pada 12-19 Agustus 2026 menunjukkan pandangan yang relatif seragam terhadap prospek bank Indonesia.

“Investor regional cenderung underweight Indonesia, termasuk big four banks,” tulis analis CGSI dalam riset tersebut.

Sebaliknya, bank-bank Singapura lebih banyak menjadi pilihan investor di kawasan ASEAN. Stabilitas makroekonomi, imbal hasil yang cukup menarik, serta kinerja operasional yang solid menjadi sejumlah alasan di balik preferensi tersebut.

Meski demikian, investor juga menyoroti valuasi bank Singapura yang dinilai sudah berada pada level premium dibandingkan historisnya.

Dividen Tinggi Belum Cukup

Di Indonesia, tingginya dividend payout bank, khususnya bank BUMN, juga mulai dipertanyakan keberlanjutannya. Padahal, imbal hasil dividen telah menjadi salah satu alasan utama investor berinvestasi di saham perbankan Indonesia sejak tahun lalu.

Menurut CGSI, investor regional kini membutuhkan bukti pemulihan pertumbuhan laba bersih atau NPAT sebelum kembali meningkatkan keyakinan terhadap sektor perbankan Indonesia.

Perhatian investor dalam jangka pendek juga tertuju pada marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) dan prospek pertumbuhan kredit pada semester II-2026.

Meskipun kinerja perbankan pada semester I-2026 dinilai relatif baik, tekanan biaya dana atau funding cost masih menjadi perhatian. Investor juga mencermati perkembangan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah ke perbankan dan dampaknya terhadap biaya pendanaan.

Dari sisi kredit, investor mempertanyakan dinamika persaingan antarbank dan kemampuan masing-masing bank menaikkan kembali yield kredit.

Kondisi operasional yang masih lunak juga membuat prospek permintaan kredit wholesale, khususnya dari sektor swasta, menjadi perhatian.

Sementara itu, kredit yang berkaitan dengan BUMN atau pemerintah tetap menjadi salah satu kekhawatiran utama. Investor diperkirakan mencermati pembayaran pertama pinjaman Agrinas yang jatuh tempo pada akhir September 2026.

Investor juga mengamati tren kredit wholesale dan retail untuk menilai apakah terdapat risiko penurunan kualitas aset yang pada akhirnya dapat meningkatkan credit cost.

BBCA dan BMRI Jadi Perhatian Utama

Di antara bank-bank Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi dua saham yang paling banyak mendapat perhatian investor regional.

Untuk BBCA, investor terutama mempertanyakan potensi pertumbuhan laba per saham atau EPS dalam jangka panjang. Investor juga melihat peluang perbaikan NIM pada semester II-2026.

CGSI menilai, apabila kondisi makroekonomi menjadi lebih kondusif, BBCA berpotensi mendapat manfaat dari sisi arus dana atau fund flow.

Sementara itu, perhatian investor terhadap BMRI lebih banyak tertuju pada prospek laba semester II-2026. Kekhawatiran mengenai tekanan NIM lanjutan serta potensi kenaikan credit cost menjadi isu utama.

Untuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), respons investor cenderung beragam. Sebagian melihat rendahnya kepemilikan asing dibandingkan bank sejenis sebagai faktor positif.

Namun, sebagian investor lainnya masih mencermati PT Permodalan Nasional Madani (PNM), anak usaha BBRI, serta potensi program kredit mikro lainnya. Investor juga mempertanyakan kapan pertumbuhan kredit mikro dapat kembali normal setelah proses pembersihan atau clean-up portofolio.

Kemudian, terhadap PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), CGSI melihat relatif sedikit kekhawatiran struktural. Investor menilai BBNI telah mengambil pendekatan yang lebih konservatif pada semester I-2026, terutama dari sisi biaya operasional dan credit cost.

Potensi M&A di BFIN dan BDMN

Selain bank-bank besar, investor berbasis Singapura juga menunjukkan minat terhadap potensi aksi merger dan akuisisi (M&A) di sektor keuangan berkapitalisasi menengah.

Dua nama yang paling menarik perhatian adalah PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).

BFIN mendapat sentimen positif berkat perbaikan kualitas aset serta hubungannya dengan PT Bank Jago Tbk (ARTO). Sementara BDMN menarik perhatian karena potensi merger dengan MUFG Indonesia.

Meski investor regional masih cenderung underweight terhadap bank Indonesia, CGSI tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan.

Pandangan tersebut ditopang ekspektasi perbaikan kebijakan pemerintah secara bertahap serta valuasi yang dinilai menarik.

CGSI menempatkan BBCA dan BBNI sebagai top picks, sementara di segmen bank dan multifinance berkapitalisasi menengah, BFIN menjadi saham pilihan.

Katalis sektor antara lain NIM yang lebih kuat dari perkiraan dan pertumbuhan kredit yang lebih baik. Sebaliknya, risiko utama berasal dari tekanan biaya pendanaan dan memburuknya kualitas kredit. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE