MARKET NEWS

January Effect Warnai IHSG di Awal 2026, Ditopang Saham Kapal dan Energi

TIM RISET IDX CHANNEL 05/01/2026 12:00 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal 2026 dengan kinerja positif, seiring mulai terlihatnya kembali fenomena January effect.

January Effect Warnai IHSG di Awal 2026, Ditopang Saham Kapal dan Energi. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal 2026 dengan kinerja positif, seiring mulai terlihatnya kembali fenomena January effect yang kerap terjadi di pasar saham.

Secara sederhana, January effect adalah istilah yang merujuk pada keyakinan adanya kenaikan musiman harga saham pada bulan pertama setiap tahun.

Fenomena ini terjadi karena investor cenderung menjual saham yang merugi pada akhir tahun untuk menekan kewajiban pajak, lalu membelinya kembali setelah pergantian tahun.

Selain itu, peningkatan permintaan saham pada Januari juga kerap didorong oleh masuknya dana segar, termasuk dari bonus akhir tahun investor, yang kemudian dialokasikan kembali ke pasar.

Pada dua hari perdagangan pertama 2026, IHSG mencatat penguatan beruntun. Indeks naik 1,17 persen pada Jumat (2/1/2026), lalu kembali menguat 0,59 persen ke level 8.799 pada Senin (5/1/2026) pukul 11.35 WIB. Dalam pergerakan intraday, IHSG bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru di 8.816,15.

Secara historis, Januari memang kerap menjadi bulan yang bersahabat bagi pasar saham Indonesia.

Berdasarkan data pergerakan IHSG selama 20 tahun terakhir, indeks mencatat kenaikan di Januari sebanyak 11 kali, dengan probabilitas penguatan mencapai sekitar 55 persen. Rata-rata imbal hasil IHSG pada Januari dalam dua dekade terakhir tercatat positif di kisaran 0,28 persen.

Momentum awal 2026 ini juga ditopang oleh kinerja kuat IHSG sepanjang tahun lalu. Sepanjang 2025, IHSG melonjak 22,13 persen, menjadi kenaikan tahunan tertinggi sejak 2017.

Dalam periode tersebut, indeks tercatat 24 kali menyentuh level ATH, mencerminkan solidnya minat investor terhadap pasar saham domestik, terutama saham-saham konglomerat.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai penguatan IHSG di awal Januari sejalan dengan pola musiman yang lazim terjadi setiap awal tahun.

“Biasanya terjadi lonjakan signifikan karena banyak investor yang melakukan aksi taking profit pada Desember kembali masuk ke pasar saham. Selain itu, banyak pula portofolio fund manager global yang melakukan reinvestment di bulan Januari,” ujar Michael, Senin (5/1/2026).

Menurut dia, penguatan awal tahun ini juga terlihat ditopang oleh pergerakan saham-saham sektor tertentu.

“Januari ini terlihat adanya spikes pada saham-saham perkapalan dan energi,” lanjutnya.

Apabila melihat data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham perkapalan macam BULL, BBRMS, GTSI, HUMI, LEAD, TMAS melambung puluhan persen dalam sepekan terakhir.

Sementara itu, saham energi, seperti milik Grup Bakrie-Grup Salim, BUMI, bersama emiten satu grupnya, mencatat lonjakan hingga 25 persen pada periode yang sama

Di sisi lain, sentimen global turut memberi warna pada pergerakan pasar. Michael menyoroti meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap dinamika geopolitik, khususnya terkait komoditas.

“Menyusul adanya kejadian penangkapan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Presiden Venezuela, muncul kekhawatiran akan perubahan tatanan supply chain komoditas,” katanya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE