MARKET NEWS

J.P. Morgan Naikkan Rekomendasi BBRI Jadi Overweight, Target Harga Rp3.400

Shifa Nurhaliza Putri 21/07/2026 17:17 WIB

J.P. Morgan menaikkan rekomendasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dari Underweight menjadi Overweight dengan target harga baru.

J.P. Morgan Naikkan Rekomendasi BBRI Jadi Overweight, Target Harga Rp3.400. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel - J.P. Morgan menaikkan rekomendasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dari Underweight menjadi Overweight dengan target harga baru Rp3.400 untuk Juni 2027, lebih tinggi dibandingkan target sebelumnya sebesar Rp2.730. Kenaikan rekomendasi tersebut didorong oleh penurunan risiko kualitas aset (asset quality/AQ) pada segmen kredit mikro serta prospek yang lebih baik terhadap portofolio pinjaman Agrinas dan PNM.

Dalam riset bertajuk Micro Trumps Macro; Tactical Upgrade to OW tertanggal 19 Juli 2026, analis J.P. Morgan menilai langkah-langkah perbaikan yang dilakukan BRI mulai menunjukkan hasil sehingga meningkatkan keyakinan terhadap prospek jangka pendek saham perseroan. 

J.P. Morgan juga menaikkan proyeksi laba per saham (EPS) BBRI untuk periode 2026-2028 sebesar 3-6 persen, terutama karena ekspektasi biaya kredit (credit cost) yang lebih rendah di kisaran 310 basis poin. Meski demikian, proyeksi tersebut masih berada sekitar 8-9 persen di bawah konsensus pasar (Street). 

Menurut J.P. Morgan, valuasi saham BBRI saat ini tergolong menarik. Saham BBRI diperdagangkan pada valuasi sekitar 7,3 kali price to earnings (PE) dan 1,31 kali price to book value (PBV) tahun 2026 atau sekitar 2,2-2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima hingga sepuluh tahun.

Dibandingkan bank BUMN besar lainnya seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI), valuasi BBRI dinilai lebih murah. 

J.P. Morgan menilai sebagian besar sentimen negatif terhadap kinerja BRI telah tercermin pada harga saham. Data hingga Mei 2026 serta diskusi dengan pelaku industri menunjukkan risiko penurunan kualitas kredit, khususnya pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah, mulai mereda. 

Selain itu, berbagai program pemerintah, termasuk penyaluran bantuan dan subsidi energi, dinilai mampu menopang arus kas debitur mikro dan masyarakat pedesaan sehingga membuka peluang terjadinya penguatan harga saham dalam jangka pendek. 

Dari sisi operasional, BRI dinilai berhasil memperbaiki kualitas kredit melalui pengetatan proses underwriting dan peningkatan efektivitas penagihan. Jumlah debitur mikro yang ditangani setiap petugas kredit telah diturunkan menjadi 456 debitur, dibandingkan 528 debitur pada 2022, dan perseroan menargetkan rasio tersebut turun mendekati 400 debitur per petugas. 

Perubahan tugas petugas kredit yang lebih fokus pada pengelolaan pinjaman berjalan dan kredit bermasalah juga dinilai meningkatkan efektivitas pengawasan kualitas aset. 

Pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM), BRI juga menerapkan kebijakan pembatasan fasilitas pinjaman maksimal 75 persen dari excess cash flow di samping persyaratan agunan, yang dinilai mampu memperbaiki kualitas kredit. Sementara pelemahan kredit konsumer, terutama kredit pemilikan rumah (KPR), dinilai belum cukup besar untuk mengganggu perbaikan kualitas aset secara keseluruhan. 

Meski demikian, J.P. Morgan masih melihat adanya tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM). Margin bunga bersih BBRI diperkirakan menyusut sekitar 26 basis poin secara tahunan pada 2026, dengan penurunan sekitar 34 basis poin pada kuartal II dan 31 basis poin pada kuartal III. Tekanan tersebut berasal dari kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) dan penurunan imbal hasil pinjaman PNM mulai kuartal III. 

Tekanan biaya dana dipicu oleh ketatnya likuiditas perbankan, termasuk rasio loan to deposit ratio (LDR) rupiah yang disesuaikan mencapai 111 persen, imbal hasil SRBI tenor 12 bulan sebesar 7,67 persen, jauh di atas suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,75 persen. Selain itu, pergerakan dana pemerintah pada bank-bank BUMN turut memengaruhi biaya pendanaan. 

J.P. Morgan memperkirakan dampak penyesuaian bunga pinjaman PNM dari 22 persen menjadi 18 persen dengan asumsi subsidi pemerintah sebesar 10 persen (flat rate) akan mengurangi NIM sekitar 6 basis poin pada 2026 dan 8 basis poin pada 2027. Apabila subsidi lebih rendah dari asumsi tersebut, risiko terhadap margin bunga bersih diperkirakan meningkat. 

Secara fundamental, J.P. Morgan memproyeksikan laba bersih BBRI mencapai Rp54,72 triliun pada 2026, meningkat menjadi Rp58,35 triliun pada 2027, dan Rp63,98 triliun pada 2028. Penyaluran kredit diperkirakan tumbuh dari Rp1.551,56 triliun pada 2026 menjadi Rp1.687,65 triliun pada 2027 dan Rp1.837,94 triliun pada 2028, sementara dana pihak ketiga diproyeksikan naik menjadi Rp1.585,54 triliun, Rp1.714,30 triliun, dan Rp1.853,99 triliun pada periode yang sama. 

Untuk rasio profitabilitas, J.P. Morgan memperkirakan ROE BBRI berada di level 16,8 persen pada 2026, meningkat menjadi 17,7 persen pada 2027 dan 18,9 persen pada 2028. Sementara itu, rasio NPL diproyeksikan stabil di kisaran 3,1 persen selama periode tersebut. 

Meski menaikkan rekomendasi, J.P. Morgan tetap mengingatkan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek BBRI, antara lain kenaikan kredit bermasalah pada segmen mikro, UKM, dan konsumer, kondisi likuiditas yang semakin ketat sehingga meningkatkan biaya dana dan memperlambat pertumbuhan kredit, pelemahan NIM akibat penurunan imbal hasil aset, serta peningkatan porsi kredit nonmikro. 

Sebaliknya, perbaikan kualitas kredit yang lebih baik dari perkiraan, kemampuan mempertahankan NIM, dan membaiknya kinerja kredit KUR melalui berbagai program pemerintah menjadi faktor yang berpotensi mendorong kinerja saham BBRI lebih lanjut. 

(Shifa Nurhaliza Putri)

SHARE